Redakan Konflik Jiwa

 

Persoalan hidup tidak selalu mudah dan cepat dapat diselesaikan, terlebih jika kita sendiri tidak berusaha melepaskan apa yang menjadi beban dalam hidup. memang terkadang masalahnya tidak sederhana, namun bisa dibuat lebih ringan dan mudah diselesikan, bergantung kepada kekuatan yang ada dalam jiwa. Kita memiliki kekuatan jiwa yang tumbuh dan bebas menentukan pilihan yang tidak menjadi konflik. Karena sudah menjadi fitrah jiwa yang menyukai kepada yang lurus, tidak bertentangan, dan kebenaran.

Mari kita tanya setiap masalah yang datang, lepaskan segala kepentingan dan ego pribadi. Meskipun kadang ada dalih manusiawi untuk mentolerir apa yang kita lakukan. rasanya memang tidak mudah mengembalikan jalan yang kita lewati berkelok-kelok dan memutar-mutar untuk bisa lurus, terlebih banyak hal yang turut di dalamnya, ibarat ingin meluruskan benang yang kusut, tarik sana-sini malah makin menengang dan sulit diurai.

Gunakan akal dan logika pikir. Simpan dulu emosi apalagi yang sedang meletup. Kadang kita perlu menyeimbangkan nalar dengan rasa. Jika memperturutkan rasa, kita bisa lari dan terbang ke langit ketujuh bahkan bisa menarik ubun-ubun. Tetapi adakalanya pikir perlu menyertai, agar apa yang dilakukan tidak kebablasan.

Memperturutkan segala emosi akan menuntut konsekuensi. Hal-hal yang bersifat terlalu menjadi sesuatu yang membahayakan. Terlebih jika tidak diiringi peran otak belahan kiri yang bisa berpikir runtut dan logis. Banyak yang kita ketahui untuk dapat mengelola emosi, dapat yang kita aplikasikan untuk bisa meredakan konflik dalam diri. Itulah peran akal untuk memikirkannya dan kelola emosi untuk meluruskannya.

Dalam psikoanalisis konflik itu terjadi manakala ada pertentangan antara dorongan id yang cenderung nafsu dan tuntutan super ego yang berisi norma-norma. Setiap kali kita dihadapi kenyataan ini, maka saat itulah terjadi konflik dalam diri. Antara menurutkan nafsu atau memegang teguh norma ajaran yang kita anut.

Ketidakmampuan dalam menyelesaikan konflik ini akan menjadi penyakit yang menimbun. Jika perturutkan nafsu, perlahan-lahan menjadi akumulasi ketidaknyamanan jiwa, karena melawan apa yang yang semestinya dilakukan dengan apa yang telah dilakukan.

Itu artinya, ada persoalan yang bertentangan, dan kita ada dalam pertentangan itu. Segera bangkit dan tinggalkan. Pilih menunda hingga waktu yang tepat, dengan jalan yang benar. Dan apa yang menjadi beban masa lalu diredakan dengan berbagai cara yang positif.

Meredakan konflik, dengan kekuatan dan perjuangan memilih yang lurus, kembali ke jalan yang semestinya, menuruti norma yang ada dalam diri kita, yang perlu dihindari, maka hindari. Mohonlah ampunan kepada Allah. Karena itu istigfar menjadi jalan dalam meredakan konflik dalam jiwa.

“dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. 3:135)

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia berbuat dosa itu bisa dikatakan manusiawi. Baik itu dosa terhadap diri sendiri seperti menganiaya diri, seperti dengan tidak memberikan hak akan kebutuhan diri sendiri. Menganiaya diri kerugiannya menimpa diri sendiri. Dan dosa terhadap orang lain yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain, dalam penjelasan ayat ini diberikan contoh seperti zina dan riba. Yang kerugainnya bukan saja diderita diri sendiri tetapi juga orang lain.

Dalam waktu yang panjang berada dalam konflik dan membohongi jiwa yang suci dengan terus memperturutkan nafsu, maka sesungguhnya ada yang tidak beres dengan jiwanya. Perlahan akan ada dalam kekosongan jiwa. Karena jiwa tidak tumbuh dan didekatkan kepada yang Maha Memiliki Jiwa.

Banyak keuntungan jika kita mampu mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Tidak perlu mengumbar kata kepada orang lain. jika belum sanggup atau perkara yang bersifat personal. Cukup sampaikan kepada Allah, dalam keheningan, sujud yang panjang pada malam dimana Allah menanti hambanya dalam jamuan malam di sepertiga malam. Setiap hari akan terasa hari yang baru, karena begitu dahsyatnya permohonan ampun itu. Bukan saja meredakan konflik dalam jiwa namun juga memudahkan segala urusan yang kita hadapi.

Nabi bersabda “siapa yang terbiasa beristigfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar dari kesempitannya dan kelapangan dari kesedihannya, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (H.R. Dawud).

****

Setiap kita merasakan kesempitan, beban yang berat dan kesalahan dalam hidup. tenanglah tidak perlu larut dalam kesedihan tanpa berbuat untuk menyelesaikannya. Basahi bibir dengan istigfar, penuhi sepertiga malam dengan pengakuan dan mohon ampunan. Lewati lamunan dengan sibuk membaca quran. Percayalah ini bukan janji manusia, tetapi Allah sendiri yang menyampaikan dalam Quran dan Rasul menyatakannya dalam hadis.

So, apalagi yang diberatkan manusia. Jika hati telah bergantung kepada Allah, jalan lurus telah kita tempuh. Maka tetaplah dalam kesabaran, hari demi hari akan selalu ada keindahan, dari yang tidak pernah kita duga. Tetaplah dalam syukur, akan makin banyak nikmat yang datang, dalam berbagai bentuk.

Jika ada rasa sempit, maka percayalah itu sebuah ujian, tidak ada yang dibiarkan mengaku beriman tanpa ada ujian yang datang. Tetap berdoa semoga selalu diberi kekuatan. Hingga nanti, saatnya tiba kembali kepada yang memiliki Jiwa ini.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS. Al Fajr 27-30).

Semoga siapa pun yang membaca tulisan ini, Allah beri kekuatan kepada kita untuk menjaga, merawat dan menumbuhkan jiwa yang tenang. Berharap bertemu dalam Surga-Nya. Kept spirit.

 

***

Dalam, irama derasnya hujan. Asrama. 14.50 # 07.04.15

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s