Percik Bacaan QS 45:21 – Konsekuensi Perbuatan

 

Inspirasiku pagi ini, Ar Rabi’ bin Khutsaim, dia Tabi’in murid Ibn Mas’ud ra. Sepanjang hidup orang yang bersamanya tidak pernah mendengar kata-kata yang kotor keluar dari mulutnya. Dia menjaga anggota tubuhnya. Menjaga pandangan, menjaga lisan, dan menjaga hati. Terlihat dari apa yang kubaca bagaimana cara Ar Rabi’ mendidik jiwa sangat patut ditiru.

Pernah suatu ketika saat Ar Rabi berada dalam masjid, ada sekelompok perempuan yang hendak ke masjid. Ar Rabi tidak sedikitpun menengok atau mengubah posisinya sedikit pun hingga perempuan-perempuan itu keluar. Memang tidak sedikit pandangan yang akhirnya membawa kepada penyesalan hidup yang berkepanjangan.

Bermula dari pandangan yang tidak terjaga, terlebih kepada lawan jenis. Pandangan yang tidak dikendalikan. Tidak salah jika bertemu pandang tanpa sengaja, itulah adalah anugrah. Namun setelah itu selesai tidak perlu diikuti segala angan dan khayal.

Setan sangat lihay, membuat perangkap agar kita mengikuti dorongan nafsu. Mengikuti pandangan kedua, mengutarakan perasaan hati, dan menunjukkan dengan perilaku. Masuk pada suasa bathin yang guncang, yang jika disadari telah jauh berjalan dalam langkah yang tersesat. Jika sudah begitu tentu tidak mudah membersihkan noda yang terus bertumpuk. Wajar jika bersusah payah menghadapi kesedihan, kegelisahan dan kehidupan yang berantakan. Namun satu sisi ada ketidak berdayaan melepas apa yang telah masuk ke dalam hati.

Tidak ada jalan untuk mengobati segala apa yang menjadi beban dalam hidup, kecuali dengan membersihakan jiwa, mendekat dan banyak beribadah hanya karena Allah. Itu pun belum tentu tuntas, kehidupan ini teramat rumit dalam pertentangan antara nafsu dan ketaatan. Jangan pernah berhenti memperkuat diri dengaan hal-hal yang positif.

Apa yang diucapkan lisan bagian dari cerminan jiwa kita sendiri. Betapa eloknya orang yang tidak pernah kita dengan mengeluh meski kita mengetahui betapa pahit hidup yang dialaminya. Tidak menjelekkan orang yang, meskipun dia teraniaya. Tidak mengeluarkan kata makian meskipun pantas dan manuasiawi jika diutarakan pada kondisi yang sedang dihadapinya. Pilihan untuk tetap berkata baik, dan memohonkan kebaikan kepada orang yang telah menzholiminya. Pekerjaan yang sangat luar biasa. Cara mendidik jiwa dengan berkata baik atau diam. Ar Rabi’ menginspirasikan ini.

Sepanjang hidup, saya merasa ada orang yang terluka dengan lisan saya, meskipun saat itu saya tidak bermaksud demikian, namun nyatanya apa yang saya ucapakan melukai hati orang. Saya tidak tahu apa yang mesti dikatakan kembali, hati telah tergores. Namun selama saya masih bisa berbuat, meminta maaf dan memberikan kebaikan dan belajar mengendalikan lisan sedikit membuat hati ini tenang. Saya kira tidak ada manusia yang suci tanpa salah dan dosa. Saya termasuk manusia itu, Beruntunglah ada Allah yang Maha Mengampuni.

Kemampuan mengendalikan diri, dengan cara mengikat hati hanya kepada Allah. Memohon ampunan setiap saat. Karena manusia hidup tidak pernah luput dalam berbuat yang tidak berkenan bagi orang lain. Manusia memang tempatnya salah dan dosa. Namun Allah sangat suka dengan orang yang selalu meminta ampunan dan mendekat kepada Allah.

Sibuk dengan memperbaiki kekuarangan diri, menjaga perasaan dan menghargai orang lain, layaknya diri ini ingin diperlakukan orang lain. Tidak ada orang yang suka jika keburukannya disebut. Allah saja menutupi aib yang ada pada orang, selama dia tidak membukanya. Tentu apa urusan kita menceritakan aib saudara sendiri.

Kesadaran itu kadang lepas ketika berkumpul dalam kelompok yang memang sedang membicarakan orang, dengan ringan dan tanpa sadar, kita sendiri terpancing untuk bercerita tentang keburukan orang lain. Sungguh memang tidak mudah untuk dapat mengendalikan diri, karena itu istighfar tiada henti. Allah maha luas ampunannya.

Tidak ada yang terlewat dalam catatan Allah, meski kita mampu menutupi segala keburukan yang ada dalam diri, sehingga tampak bagus di hadapan orang lain. Namun tidak di hadapan Allah, keburukan apapun yang kita perbuat, sangat jelas dihadapan-Nya.

Setiap yang dilakukan terdapat konsekuensi. Terus menerus dalam kejahatan dan keburukan akan menelan kehinaan. Karena memang tidak akan pernah sama antara yang selalu memohon ampunan dengan orang yang bangga dengan dosa-dosa.

Bagaimana Allah akan memberi pertolongan dan keberkahan, sementara kejahatan dan keburukan tidak pernah berhenti dikerjakan. Jangan pernah mengira sama perlakuan bagi orang yang sholeh dan salah.

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” QS. 45:21

Menerima segala konsekuensi dari perbuatan, dengan tetap bermohon ampunan. Kiranya segala apa yang menjadi beban dan akibat dari keburukan dapat berkurang. Mendekat dan terus mendekat kepada Allah dan berbuat kebaikan. Hingga masa tiba, kembali kepada-Nya. dan Allah ada dalam hati, lisan dan perbuatan kita.

Semangat pagi, meraih berkah dan menebar kebaikan.

15.04.15. # 07.11. Bogor.

One thought on “Percik Bacaan QS 45:21 – Konsekuensi Perbuatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s