Menulis bener, Beneran sulit

 

Biarpun sekolah sudah sampai mau habis diujung tingkat, tetapi pekerjaan menulis adalah bukan hal mudah. Apalagi menulis beneran, maksudnya menulis yang dapat difahami orang lain, logis dan sistematis, dan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau menulis asal bunyi, dan sesuka hati tentu tidak sulit. Saya biasa melakukannya, mungkin karena biasa inilah, akhirnya saat menulis beneran, komentar pertama adalah tulisan saya adalah tulisan yang menggunakan bahasa lisan. Kedua struktur kalimat berantakan, ketiga, yang membuat saya senang, tidak semua tulisanya begitu masih ada yang bagusnya. (sepertinya ketiga itu energi untuk memperbaiki)

Sekolah dan belajar bertahun-tahun sejak SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dan kuliah S1 4 tahun. Paling tidak 16 tahun belajar, mestinya cukup untuk modal menulis. Dan memiliki kemampuan baik dalam menulis. Namun ternyata tidak semudah itu. Meskipun telah menyelesaikan pendidikan di tingkat tinggi bukan jaminan untuk tidak gagap menulis, piawai dalam menyapaikan ide dan menjadikan bacaan yang mudah difahami orang.

Selama belajar di sekolah formal, apalagi saat mahasiswa, pekerjaan membuat tulisan berupa artikel atau makalah sudah biasa. Tetapi tugas itu dianggap hal yang biasa. Tidak diperhatikan seperti apa dan bagaimana penulisan yang baik. Tidak jarang tugas itu dipenuhi dengan cara yang tidak semestinya seperti mencopy pekerjaan orang lain, atau menulis dengan alakadarnya. Dosen yang memberi tugas pun tidak menyadari itu, yang diperhatikan adalah konten pemaparan saat diskusi. Alhasil tulisan yang dibuatnya tidak diketahui baik atau buruknya.

Saat menulis tugas akhir seperti skripsi, tesis atau disertasi barulah terlihat. Itu pun jika dosen pembimbing adalah orang yang sangat memperhatikan tulisan. Saat itulah belajar dan mendapat pengalaman bagaimana menulis dengan benar. Mestinya beruntung mahasiswa yang mengalami hal ini (termasuk saya.. hiiks). Dengan begitu dapat mengetahui seberapa baik kemampuan menulisnya.

Saya mengalami dinamika menulis, kadang dipuji dan kadang dimaki. Saya sendiri tidak faham, rasanya buat saya sama saja, menulis dengan biasanya dan apa adanya. Tetapi setelah penilaian itu datang, saya baru menengok ke belakang apa yang terjadi saat saya menulis pembahasan itu. Ya, saya mengira-ngira, tulisan yang dianggap orang lain bagus biasanya saya menuliskannya dengan bahan yang memadai, waktu yang tenang, pikiran dan hati yang sedang bersahabat. Tetapi saat tulisan buruk, yang kalau saya baca ulang sendiri pun tidak faham maksudnya, itu tulisan biasanya ditulis saat bahan bacaan yang semraut, banyak ide yang berserak, pikiran dan hati yang kalut. Hasilnya pembimbing saja tidak faham dari apa yang dituliskan, bagaimana dengan lainnya. (ampuun..)

Tidak ada yang tidak bisa dipelajari dan diperbaiki. Dengan kesungguhan, konsentrasi dan terus memperbaiki saya yakin akan sampai. Meski itu tidak mudah. (tolooong…)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s