Dimana pun kita, Kematian itu Begitu Dekat

Manusia hanya punya rencana karena apa yang terjadi tidak selalu sama dengan apa yang direncanakan. Hari minggu pagi, Ibu setengah baya yang selepas olahraga berbelanja di pasar kecil bisa jadi telah terbayang bisa memasak untuk keluarga, namun apa yang terjadi saat berbelanja tiba-tiba sakit perut yang luar biasa sehingga terjatuh. Orang-orang di sekitarnya dengan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Tidak lama di rumah sakit dalam proses pengecekan, nyawanya melayang meninggalkan jasad. Tidak ada yang bisa dihubungi dan diketahui darimana berasal. Karena tidak ada Kartu tanda Penduduk (KTP) maupun telepon genggam. Masuklah jasad yang tidak lagi bernyawa itu ke dalam kamar mayat.

Sungguh hidup tidak pernah disangka. Ajal begitu dekat, sampai tidak mau menunggu hingga ada di tengah keluarga. Dimana pun yang Maha memiliki jiwa ini hendak mengambilnya tidak ada satu pun yang dapat menundanya.

Seribu kali keluarga, orangtua, sahabat begitu menyayangi namun belum tentu mendapati saat keadaan yang tersulit, menghadapi sakitnya ajal menjemput. Kebaikan dan kepedulian orang yang tidak dikenal dengan izin Allah memberikan bantuan. Namun kadang selagi hidup tidak mudah berinteraksi dan meberikan kebaikan kepada orang yang tidak dikenal. Orang-orang lebih banyak menaruh curiga kepada orang yang tidak dikenal. Memang disatu sisi mesti waspada, tetapi perlu juga melihat kondisi yang ada. Kecurigaan yang tidak beralasan, membuat prasangka-prasangka yang dapat mempengaruhi perilaku dan merugikan.

Hidup adalah kebaikan, karena kebaikan akan berbuah kebaikan. Kita tidak pernah mengatahui bagian mana dari kebaikan ini yang melindungi kita dari suatu keburukan. Dan tidak pula setiap kebaikan dapat memenuhi akan kebutuhan yang kita perlukan. Segalanya adalah karunia Allah, kasih sayang Allah. Seluruh kebaikan yang kita buat beum tentu mampu mengimbangi akan kasih sayang yang telah Allah beri. Kebaikan tulus karena Allah, tanda syukur atas segala nikmatnya. Tidak perlu lagi ditakuti akan apa yang terjadi. Karena Allah telah mengatur segalanya.

Namun demikian sebagai usaha memudahkan indentifikasi saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saat berpergian sendiri khusunya maka perlu beberapa hal yang dipersiapkan meskipun kita berangkat ke tempat yang dekat sekalipun yaitu: 1) izin atau memberi tahu kemana akan pergi dengan orang yang di rumah, artinya jika kita pergi hendak kemana ada yang mengetahuinya. 2) jika memungkinkan membawa dompet pastikan ada KTP, 3) jika memungkinkan membawa handphone, jangan lupa nama di nomor kontak handphone yang jelas, kalau orangtua, suami atau istri disertakan keterangannya. 4) baca doa sebelum pergi mohon perlindungan kepada Allah, berserah diri kepada Allah, apa pun yang terjadi saat diperjalanan atau dalam berpergian semoga Allah memberikan yang terbaik.

Kadang dalam kondisi tertentu tips di atas tidak semua berlaku. Tidak ada orang yang di rumah, tidak perlu bawa KTP atau handphone. Tetapi nomor empat itu yang sangat mungkin. Kept doa.

 

 

Advertisements

70 Tahun Merdeka

 

Semarak menyambut 70 tahun Indonesia merdeka terlihat dari berbagai atribut yang di pasang di rumah pribadi maupun tempat umum seperti gedung perkantoran dan instansi pemerintah. Di bawah bacaan 70 tahun Merdeka tertulis juga anjuran ‘Ayo Kerja’. Selintas berpikir sudah 70 tahun sarannya ayo kerja, emangnya dulu apa yang dikerjakan? Ada apa dengan bangsa yang sudah 70 tahun merdeka ini? bagaimana penduduknya? Pemerintahannya? Tingkat dan kualitas pendidikannya? Ekonominya? Infrastrukturnya? Banyak lagi yang menjadi tanya-tanya.

Pada masa penjajahan fisik semua menyadari dan memiliki satu tujuan bersama mengusir penjajah dengan segenap kekuatan, senjata seadanya dengan tombak, panah dan senjata lain yang kalah moderen dengan penjajah. Tetapi meski demikian semangat dan tujuan yang sama menjadi kekuatan untuk meraihnya. Saya kira juga tidak lapas dari doa para pejuang, mereka orang-orang yang sholih. Pembukaan undang-undang menegaskan dengan kalimat, “Berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa” artinya sadar betul bahwa sesungguhnya segala kondisi yang terjadi hingga Indonesia merdeka bukan secara kebetulan tetapi sudah menjadi ketentuan yang diberikan kepada bangsa ini.

Setelah kemerdekaan diraih, upaya mengisi kemerdekaan menjadi cerita yang berbeda. Dulu sesama pejuang berpikir keras untuk mengusir lawan atau penjajah. Setelah merdeka pun sama berpikir keras untuk menyingkirkan lawan. Merdeka tidak merdeka pikirannya sama. Hasilnya tidak jauh beda. Banyak kepentingan yang saling tarik menarik sehingga tidak tentu arah dan bahkan kehilangan arah. Ibarat sebuah bahtera begitu banyak nahkoda, semuanya ingin sampai kepada tujuan, tujuan yang banyak dengan satu kendaraan, mestinya bisa dikompromikan, tetapi sayang kadang sulit diatur dan mengatur, yang akhirnya berjalan masing-masing. Pastinya tidak pernah melesat dan dapat melaju dengan jauh.

Persaingan dengan bangsa-bangsa lain tidak dapat dihentikan. Kesepakatan-kesepakatan untuk menciptakan wilayah tanpa batas, bebas untuk melakukan ekspansi pendidikan dan ekonomi dari negara-negara lain yang masuk sudah sangat terasa. Rumah yang rapuh tidak cukup kuat untuk menahan hempasan badai. Pantas jika anjuran digaungkan kini yaitu untuk “Ayo Kerja”, perbaiki semuanya agar makin kuat dan kokoh.

Memperhatikan lingkugan di sekitar rumah pun kita sudah disuguhkan beragam persoalan. Hidup disuasana kampung tetapi tidak mudah mendapati semangat kampung seperti bergotong royong, memperhatikan kebersihan lingkungan, menghiasi lahan pekarangan dan samping rumah dengan tanaman yang dibutuhkan sendiri dan menjaga keamanan lingkungan. Meski pun ada yang melakukannya tetapi gerakan itu bukan dari gerakan kesadaran kolektif.

Melihat pendidikan anak-anak pun tidak membuat kita merasa puas dengan apa yang telah mereka pelajari di sekolah. Mereka kehilangan adab, pantas jika tidak beradab dan kadang biadab, sesama teman saling melukai, lihat saja tawuran pelajar yang tidak pernah selesai dan dapat diselesaikan oleh siswa itu sendiri. Selalu ada pemicu mereka untuk berkelahi. Apa yang mereka perbincangkan saat berkumpul dalam kelompok, sangat jauh dari pelajaran sekolah. apa yang terjadi di rumah, tidak ada arahan dan teladan. Orangtua mereka pandai dan cerdas tetapi mereka mencurahkan perhatiannya untuk pekerjaan kantor. Uang dianggap cukup untuk menggantikan ongkos pendidikan anak. Sekalipun ada orangtua di rumah tetapi tidak punya program untuk memetakan kegiatan di rumah, karena keterbatasan dengan alasan domestik, pekerjaan rumah yang melelahkan.

Anak-anak adalah harta bagi orangtuanya, bukan saja menjadi aset bangsa di dunia, tetapi juga di akhirat. Jika anak tidak didik menjadi orang yang baik, orang yang sholih, tidak akan sampai doa-doa anak sholih itu kepada orangtuanya yang telah meninggal lebih dahulu. Orang yang sholih bukan sekedar menggunakan baju koko dan sarung, anak sholih adalah anak yang berkembang segala potensi positifnya dengan tetap bertaqwa kepada Allah. Perjuangan yang tidak mudah untuk bisa sampai mencapai itu. Pribadi-pribadi yang kokoh dan kuat akan menegakan pilar-pilar bangsa di masa mendatang.

Ayo Kerja dan ayo terus bekerja adalah anjuran yang tidak pernah berhenti selama ada kehidupan.

 

 

 

 

Hanya ada Syukur atas segalanya

 

Bayangkan seandaiya dalam kehidupan terburuk hidup ini berakhir. Rasanya siapapun tidak ingin dan tidak akan melakukan hal buruk dalam hidup jika mengingat akan berakhirnya kehidupan saat itu. Tetapi hidup penuh dinamika, kita tidak pernah tahu akan apa yang terjadi ke depan. Selain syukur dan doa memohon perlindungan-Nya.

Selepas berjama’ah subuh di masjid seorang ibu muda menghampiri, dia meminta doakan hendak operasi pengangkatan myoum dan rahim dalam dua hari ke depan ini. saya teringat cerita seorang ibu yang juga mengalami hal sama. Betapa berat kenyataan, namun demikian hidup harus selalu disyukuri.

Terkadang musibah atau berkah menjadi jalan untuk muhasabah diri, mengkoreksi diri sendiri dan memperbaiki diri. Kita tidak pernah mengetahui masa lalu orang lain, dan memang tidak mesti mengetahuinya. Saat kini dan hanya sebagian kini dari orang yang kita kenal yang kita mengetahui, jika ada cerita masa lalu, tidak pernah bisa kita memastikan masa lalu seseorang berhubungan dengan kehidupan kini. Cukup urusan Allah yang mengetahui perilaku-perilaku hambanya.

Tidak ada yang disia-siakan atas kebaikan apapun yang kita lakukan, seandainya bersabar dan menerima atas semua ketetapanNya rasanya tidak ada yang perlu diberatkan. Tentu bukan hal mudah bagi orang yang mengalami suatu musibah untuk bisa bersabar. Karena ada bagian yang teramat berharga dan mulia di balik sebuah kesabaran.

Kita tidak akan mampu mencapainya tanpa pertolongan Allah. Hanya karena karunia Allah segalanya menjadi ringan. Saya sangat percaya, saat mendekat selangkah demi selangkah semakin hati bertambah tenang dan terasa ringan semua beban. Tidak ada harapan kecuali kebaikan atas diri sendiri, orang terdekat dan semua orang.

Jika seseorang mengalami suatu penyakit, sesungguhnya Allah sedang sayang kepadaNya. Pahala besar telah disediakannya. Dosa-dosa yang telah lalu telah digugurkannya. Beruntunglah orang sakit dan mendapat musibah. Sejauh bisa sabar telah tersedia bagian pahala. Allah dan dirinya menjadi dekat, setiap kali saat terasa sakit kepada siapa meminta pertolongan dan memohon diringankan rasa sakit, kecuali kepada Allah. Dokter dan obat-obatan hanya menjadi jalan kesembuhan, hakikatnya Allah yang menyembuhkan.

Teiring doa semoga Allah berikan yang terbaik, kesabaran dan kesembuhan kepada sahabat yang sedang disayangi Allah.

Memperkuat rasa syukur akan menambahkan kenikmatan atas apa yang ada.