70 Tahun Merdeka

 

Semarak menyambut 70 tahun Indonesia merdeka terlihat dari berbagai atribut yang di pasang di rumah pribadi maupun tempat umum seperti gedung perkantoran dan instansi pemerintah. Di bawah bacaan 70 tahun Merdeka tertulis juga anjuran ‘Ayo Kerja’. Selintas berpikir sudah 70 tahun sarannya ayo kerja, emangnya dulu apa yang dikerjakan? Ada apa dengan bangsa yang sudah 70 tahun merdeka ini? bagaimana penduduknya? Pemerintahannya? Tingkat dan kualitas pendidikannya? Ekonominya? Infrastrukturnya? Banyak lagi yang menjadi tanya-tanya.

Pada masa penjajahan fisik semua menyadari dan memiliki satu tujuan bersama mengusir penjajah dengan segenap kekuatan, senjata seadanya dengan tombak, panah dan senjata lain yang kalah moderen dengan penjajah. Tetapi meski demikian semangat dan tujuan yang sama menjadi kekuatan untuk meraihnya. Saya kira juga tidak lapas dari doa para pejuang, mereka orang-orang yang sholih. Pembukaan undang-undang menegaskan dengan kalimat, “Berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa” artinya sadar betul bahwa sesungguhnya segala kondisi yang terjadi hingga Indonesia merdeka bukan secara kebetulan tetapi sudah menjadi ketentuan yang diberikan kepada bangsa ini.

Setelah kemerdekaan diraih, upaya mengisi kemerdekaan menjadi cerita yang berbeda. Dulu sesama pejuang berpikir keras untuk mengusir lawan atau penjajah. Setelah merdeka pun sama berpikir keras untuk menyingkirkan lawan. Merdeka tidak merdeka pikirannya sama. Hasilnya tidak jauh beda. Banyak kepentingan yang saling tarik menarik sehingga tidak tentu arah dan bahkan kehilangan arah. Ibarat sebuah bahtera begitu banyak nahkoda, semuanya ingin sampai kepada tujuan, tujuan yang banyak dengan satu kendaraan, mestinya bisa dikompromikan, tetapi sayang kadang sulit diatur dan mengatur, yang akhirnya berjalan masing-masing. Pastinya tidak pernah melesat dan dapat melaju dengan jauh.

Persaingan dengan bangsa-bangsa lain tidak dapat dihentikan. Kesepakatan-kesepakatan untuk menciptakan wilayah tanpa batas, bebas untuk melakukan ekspansi pendidikan dan ekonomi dari negara-negara lain yang masuk sudah sangat terasa. Rumah yang rapuh tidak cukup kuat untuk menahan hempasan badai. Pantas jika anjuran digaungkan kini yaitu untuk “Ayo Kerja”, perbaiki semuanya agar makin kuat dan kokoh.

Memperhatikan lingkugan di sekitar rumah pun kita sudah disuguhkan beragam persoalan. Hidup disuasana kampung tetapi tidak mudah mendapati semangat kampung seperti bergotong royong, memperhatikan kebersihan lingkungan, menghiasi lahan pekarangan dan samping rumah dengan tanaman yang dibutuhkan sendiri dan menjaga keamanan lingkungan. Meski pun ada yang melakukannya tetapi gerakan itu bukan dari gerakan kesadaran kolektif.

Melihat pendidikan anak-anak pun tidak membuat kita merasa puas dengan apa yang telah mereka pelajari di sekolah. Mereka kehilangan adab, pantas jika tidak beradab dan kadang biadab, sesama teman saling melukai, lihat saja tawuran pelajar yang tidak pernah selesai dan dapat diselesaikan oleh siswa itu sendiri. Selalu ada pemicu mereka untuk berkelahi. Apa yang mereka perbincangkan saat berkumpul dalam kelompok, sangat jauh dari pelajaran sekolah. apa yang terjadi di rumah, tidak ada arahan dan teladan. Orangtua mereka pandai dan cerdas tetapi mereka mencurahkan perhatiannya untuk pekerjaan kantor. Uang dianggap cukup untuk menggantikan ongkos pendidikan anak. Sekalipun ada orangtua di rumah tetapi tidak punya program untuk memetakan kegiatan di rumah, karena keterbatasan dengan alasan domestik, pekerjaan rumah yang melelahkan.

Anak-anak adalah harta bagi orangtuanya, bukan saja menjadi aset bangsa di dunia, tetapi juga di akhirat. Jika anak tidak didik menjadi orang yang baik, orang yang sholih, tidak akan sampai doa-doa anak sholih itu kepada orangtuanya yang telah meninggal lebih dahulu. Orang yang sholih bukan sekedar menggunakan baju koko dan sarung, anak sholih adalah anak yang berkembang segala potensi positifnya dengan tetap bertaqwa kepada Allah. Perjuangan yang tidak mudah untuk bisa sampai mencapai itu. Pribadi-pribadi yang kokoh dan kuat akan menegakan pilar-pilar bangsa di masa mendatang.

Ayo Kerja dan ayo terus bekerja adalah anjuran yang tidak pernah berhenti selama ada kehidupan.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s