Terbang dan Berpetualang

Sekeras apa pun keadaan yang dihadapi
maka komitmenlah yang membuatnya kuat dan bertahan.

Dalam setiap perbuatan yang kita lakukan tersimpan niat yang mendasarinya. Tidak ada orang yang mengetahui niat sesungguhnya dalam diri setiap orang. Hanya orang itulah yang memahami niat yang sebenarnya. Meskipun niat itu tersembunyi jauh dalam lubuk batin seseorang, namun niat dapat menyembul dalam gambaran perilaku dan kecenderungan seseorang dalam bertindak.

Niat baik dan niat busuk akan mengeluarkan aura dalam interaksi, kegiatan yang berjalan, mengambil sebuah keputusan, arah pemikiran atau lainnya. Niat itu yang akan memberikan bias auranya dari setiap laku kita. Saya tidak akan membahasi niat busuk, karena tidak ada yang patut menghakimi niat seseorang, kecuali dirinya sendiri dan akibat dari perilakunya sendiri. Sebaiknya kita belajar meluruskan niat dan membangun niat yang baik dalam setiap perbuatan dan hidup ini.

“berangkatlah kalian dengan niat dakwah” ini penggalan pesan yang disampaikan kepada para mahasiswa yang akan melakukan praktek dan pengabdian di lapangan yang bertempat di luar negeri, tepatnya Negara Thailand Selatan. Mengapa pesan ini penting disampikan? Apa dampaknya jika ditekadkan dalam diri seseorang?

Di tempat yang baru, tidak semua keadaan yang dihadapi akan nyaman. Banyak terdapat kemungkinan yang terburuk dalam hidup, namun tidak sedikit hal-hal yang manis yang mungkin dirasakan. Semua kembali kepada bagaimana niat dan sikap diri seseorang dalam menghadapi keadaan tersebut.

Niat dakwah adalah niat yang indah dan manis bagi siapapun yang merasakannya dengan ketulusan hati. Apa sesungguhnya niat dakwah? Niat ini hanya tercatat dalam batin terdalam seseorang tentang apa yang dilakukannya sepenuhnya hanya karena Allah, niat mengajak untuk bersama-sama mencintai kebaikan, kebenaran dan bersungguh-sungguh melakukannya. Tidak peduli pedih, sakit dan kesulitan apapun. Karena memang tidak mudah menghadapi keadaan dengan tetap bersahaja, kecuali orang yang memiliki komitmen.

Percaya di mana pun bumi dipijak, Allah selalu ada. Karunia Allah terhampar dimanapun kita berada. Berikan yang terbaik, dan jangan berharap mereka yang membalas segala kebaikan kita. Kembalikan segalanya kepada yang Maha menentukan. Percaya bahwa segalanya tidak akan disia-siakan.

Jadilah seorang petualang, pengembara yang tidak memiliki tujuan kecuali tujuan kembali dalam keadaan dan niat yang terbaik dalam diri. Tidak ada kepentingan yang menungganggi yang bersifat sementara dan merusak keadaan. Belajarlah dalam setiap langkah, ambil yang terbaik. Segalanya akan berpulang kepada diri sendiri.

Pesan ini tidak hanya bagi mahasiswa yang hendak berangkat KKN keluar negeri, tetapi ini juga menjadi pesan bagi saya pribadi dalam menjalankan tugas dan peran. Segalanya diniatkan untuk ibadah, mencintai kebaikan, bersungguh-sungguh menegakan kebenaran. Allah yang Maha Mengetahui dan bermohon kepada Allah untuk tetap berkomitmen pada jalan-Nya.

At home, 18 Nopember 2016. When the other sleeping and dreaming at 02.37

Bumiku Pijak, Keluar dari Bumi

bumi.jpg

“Mah, bagaimana bisa keluar dari Bumi? Pertanyaan yang berulang ditanyakan oleh  anak umur 4 tahun.

Pertanyaan yang spontan, meski sering diucapkan. Aku tidak heran mengapa pertanyaan itu menyembul di otak anakku yang bungsu. Karena beberapa kali dia melihat tayangan video tata surya, dan menanyakan kepadaku nama-nama benda yang bergerak di video itu. Aku menyebutkannya kadang sembarang, namun yang hafal dan akrab dengan ku, itulah bumi. Berbeda dengan benda lain, bumi berwara biru. Aku ceritkan bahwa bumi banyak mengandung air, dan air itu adalah sumber kehidupan utama bagi makhluk hidup. Anak sekecil itu entah paham atau tidak aku rasa tidak masalah.

Kebiasaan berfikir yang terbalaik dan melawan arah fikir inilah yang membuat bahasa anak ini berbeda. Saat cerita bumi, maka dia akan berfikir bagaimana keluar dari bumi.  Begitu pula saat bermain, misalnya saja main tanah, aku bilang “di tanah banyak cacing” ringan anak itu akan menjawab, “aku mau cacing”.   Ku rasa dia menjawab demikian untuk mempertahanan apa yang dilakukannya agar tidak cepat berlalu. Saat main diluar panas terik, aku katakan, “main diluar panas, ayo masuk ke dalam”. Bisa dibayangkan dia akan jawab apa untuk mempertahankan kemauannya. Yap. “aku mau panas-panas”.

Tidak begitu banyak menarik dari kebiasaan itu, karena mungkin masih dini, dan juga pola jawaban yang sudah bisa ditebak. Tetapi ada hal yang ikut terpikir dibenakku saat bicara bumi. Tempat kehidupan ini berlangsung. Tempat bersemayam jasad kaku di dalamnya, karena ruh tentu telah lepas entah ada dibagian mana.

Kehidupan menghadiran kesenangan, kebahagiaan, kesedihan, kemalangan dan bermacam perasaan menyertai setiap lakon dalam hidup ini. Di bumi, tempat segala amal terkumpul untuk bekal perjalanan. Karena bukan bumi tempat akhir dari kehidupan manusia ini. ada perjalanan panjang yang menetukan kebagiaan dan penderitaan abadi.  Maka siapa pun berharap kebahagiaan yang abadi.

Hidup setelah mati, sesuatu yang sangat misteri. Aku membayangkan bisa berjumpa dengan orang-orang yang aku kenal dalam kebahagiaan. Entahlah apa yang dilakukan di sana. Sangat tidak mudah difahami, yang pasti dunia ini jembatan, kehidupan yang singkat untuk menuju keabadian. Segala amal akan ditentukan balasnnya di akhir nanti.

Tentu di antara kita tidak ada yang memiiki amalan yang seragam. Sehiangga nanti jika diperhitungkan amal akan masuk pada tempat yang sama. Ya, tentu tidak sesederhana memesan tiket nonton bioskop, yang bisa tentukan tempat mana  kita bisa duduk bersama.

Setiap kita berbeda. Beramal yang serupa pun belum tentu mendapat balasan yang sama.  Beramal banyak pun belum tentu akan dapat membayar syurga. Karena syurga tidak berlabel harga sepersekian amal. Sungguh tidak bisa dapat kita prediksikan amal dan balasan dari semua apa yang kita kerjakan, kecuali mengharap keridhoan dari yang Maha memiliki segalanya. Allahu Robbii…

Menerawang jauh, bumi tempat yang kini bisa kurasakan hembusan udara, tetesan air dan hiruk pikuk kehidupan. Hal yang sama dapat dinikmati setiap yang bernyawa. Yang membedakan di antara kita, seberapa besar tanda syukurmu atas semua ini.

Khayalku, anakku…

Terbang tinggi ke atas sana, kau akan keluar dari bumi.

Singgah di bulan, melonggok mars

Berkejaran bersama gemintang

Bila segala materil ini memberatkan

Terbanglah dengan segala makna kebaikan

Ringan, menghujam, bercahaya dan cepat bagai kilat

Hatimu yang menentukan

Amalmu yang menguatkan

 

Di Bumi, 17 Juli 2016.

 

Tips Menumbuhkan Sikap Positif

Setiap kita tumbuh dengan beragam pengalaman hidup. Sejak mula bayi hingga terus bertambah usia, bertambah pula pengalaman. Belajar adalah salah satu pengalaman, kehidupan diluar pun menjadi pengalaman.  Seiring waktu begitu padat hari-hari dengan beragam pengalaman.

Setiap hari adalah kehidupan baru. Tidak pernah sekalipun kita mengalami keadaan yang sama. Karena sesunguhnya meski kejadian sama, waktu sudah berbeda, cara sikap tidak akan selalu sama, tempat dan waktu yang menandai saja bisa berbeda,  belum lagi sikap diri dan sekitaran juga membuat beda. Setiap hari memang berkah hidup yang patut dimaknai dan disyukuri.

Setiap hari dalam sekian detik ke depan, tidak pernah ada yang bisa mengira apa yang bakal terjadi. terlebih kematian adalah misteri yang akan mendatangi siapa pun. Jika memahami hakikat hidup di dunia  maka setiap kita akan mengambil sikap sesuai dengan apa yang menjadi keyakinannya.

Hidup bagi orang yang berkeyakinan bahwa ini sementara sebagai tempat beramal sebagai bekal kembali pada kehidupan yang panjang di alam akhir akan berbeda sikap hidup dengan orang yang berkeyakinan hidup ini hanya sekali dan tidak akan ada kehidupan lagi. inilah keyakinan.

Bagi yang berkeyakinan hidup di dunia ini sementara dan tempat beramal, maka hidup tidak ubah seperti menikmati perjalanan untuk pulang. Meski di perjalanan itu menarik hati dan menyenangkan, tidak boleh lena, karena ada yang lebih dirindu untuk segera pulang dan sampai di tempat yang telah memberikan kenyamanan hati dan pikiran. Bertemu dengan yang begitu amat berjasa dalam keseluruhan hidup.

Tidak mudah mengawal hari agar tetap memiliki sikap yang baik. Keseluruhan kualitas kerja ditentukan oleh sikap, niat dan motivasi yang ada dalam diri. Karena itu memperbaiki bagian dalam diri ini jauh lebih penting untuk didahulukan dibenamkan dalam diri.

Ini beberpa pengingat diri agar memilii sikap hidup yang baik dalam diri:

  1. Syukuri anugerah hidup

Dalam kondisi apapun saat ini, selama ada nafas artinya kita masih hidup, diberi kesempatan menikmati dunia dengan cara yang kita sanggup.  Bagi yang tidak terhambat dengan kesehatan fisik dapat banyak amal bisa diperbuat. Peduli dengan sesame, karena hakikat kebaikan amal dan kualitas diri adalah kebermanfaatan terhadap sesama. Karena itu membangun empati dan beramal sholeh dengan ikhlas sebagai tanda syukuri nikmat hidup. tidak boleh lepas beramal baik bagi yang dirundung malang dan sakit, memahami makna sakit dan begitu besar pahala menerima sakit, bersabar dan bersemangat untuk berobat agar sembuh, serta tidak meninggalkan kewajiban ibadah adalah yang terbaik yang bisa dilakukan. Sebagai wujud syukur atas nikmat hidup saat sakit.

 

 

  1. berfikir positif

Pikiran mempengaruhi cara sikap. Pikir yang baik akan membimbing sikap dan cara berperilaku yang baik. Pengalaman kurang baik berulang yang tidak disikapi dengan baik pun akan menjadi pola buruk dalam mensikapi pengalaman yang serupa. Karena itu perlu lingkungan, atmosfir yang kondusif. Jika berkeluarga, ciptakan keluarga yang ramah anak, isteri, suami dan lingkungan luar. Tanamkan sikap-sikap positif pada anak. Anak belum banyak pengalaman, kadang mudah mengeluarkan kata yang kurang syukur tehadap pemberian terutama dari  orangtua. Padahal bisa jadi orangta melakukan untuk anak dengan susah payah. Bisa menjadi emosi yang negatif jika tidak memahami akan kekurangan dan cara memupuk perilaku positif. Berikan makna melalui pengalaman yang dapat menumbuhkan anak akan kecintaan terhadap anak-anak yang kekurangan, tidak ada ayah ibu, dan hidup dalam asuhan orang lain. Berbagi pengalaman ini anak akan memiliki cara pandang yang baru dalam mensikapi hidupnya sendiri. Banyak cara menumbuhkan sikap positif, dengan memahami apa yang didapat kini adalah yang terbaik yang Allah berikan, maka terima, sukuri dan nikmati keindahan-keindahan dari rasa syukur yang akan tumbuh di tempat yang tidak disangka.

  1. tambahkan ilmu pengetahuan

Ilmu yang mengawal kehidupan dan mengarahkan pemiliki ilmu pada jalan-jalan yang lebih baik. Untuk bisa memiliki sikap-sikap yang baik, maka menambahakan ilmu akan suatu hal yang kita hadapi akan memberikan cara pandang baru dan beda. Cinta ilmu tidak selalu di bangku kelas untuk menimbanya, dalam kehidupan banya ilmu berserak yang bisa didalami. Banyak sumber yang bisa diselami. Melalui tulisan, atau bertemu dan mendengar langsung dengan ahlinya sangat memungkinkan. Tidak ada batas waktu usia untuk mencari ilmu, selama masih hidup tidak boleh lepas dari mencari ilmu. Banyak ragam ilmu, tentu ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan yang baik adalah ilmu yang terbaik.

Kali ini cukup tiga di atas sebagai jalan mengarahkan kepada sikap yang baik dalam memupuk kualiatas diri yang baik. Itu pun  jika dilakukan akan tumbuh kembangan hal baik di dalamnya, seperti optimism dan menghargai orang lain. Tentu bukan hal mudah untuk bisa jalankan ketiga hal  itu dan juga bukan perkara sulit, jika berniat dan memiliki kekuatan diri untuk mengubah diri menjadi lebih baik bermohonlah kekuatan kepada Allah, semoga Allah beri kekuatan dan konsistensi dalam kebaikan.

 

 

Inspirasi Model-Model Evaluasi

Inspirasi Model-Model Evaluasi

Beberapa hari ini dengan waktu yang tidak memadai, saya mencoba mengidentifikasi berbagai model evaluasi. Pekerjaan ini telah sejak dahulu dilakukan, tetapi tidak banyak mengeksplorasi, sehingga saya menuliskan model dalam tulisan tugas akhirpun tidak banyak. Kali ini mendapat masukan untuk menambah jumlah model evaluasi dalam pembahasan menjadi tujuh. Pekerjaan yang menarik, untuk menambahkan model yang mana yang akan saya masukan dalam pembahasan, saya menelaah perkembangan model evaluasi yang direntang sejak awal munculnya model evaluasi hingga model yang kini. Jika bisa dilihat bahwa perkembangan model seiring dengan perkembangan pandangan ilmu pengetahuan, bermula dari pandangan behavioristik yang deterministik, secara tidak langsung juga mempengaruhi cara mengevaluasi yang bersifat objective oriented, atau behavioral approch. Model ini yang dikenal dengan evaluasi berbasis tujuan. Tujuan menjadi determinan dalam pencapaian keberhasilan suatu program atau kegiatan. Evaluasi ini yang dipelopori oleh Tyler.

Lepas dari model semula, muncul beragam model dengan pendekatan yang berbeda, terkadang keahlian seseorang yang mencetus model memberikan wana yang unik pada model yang digagasnya. Misalnya evaluasi model Connoiseurship and Critism, istilah konoseurship lekat dengan dunia seni, karena memang Einser penggagas dari evaluasi ini sangat mencintai dunia seni. Dalam evaluasi model ini, seseorang yang akan melakukan evaluasi perlu memiliki keahlian pada bidang yang akan dievaluasi inilah yang dinamakan Konosheursip dalam bidang tersebut. Namun bukan berarti seorang evaluator yang tidak memiliki keahlian dalam bidang tertentu tidak dapat melalukan evaluasi, terdapat cara yang difasilitasi dalam model ini yaitu dengan bekerja sama pada pakar yang mumpuni dalam bidang yang dievaluasi.

Perkembangan metodologi dari kuantitatif sebagai metode yang tradisional dan paling tua, bergeser pada metodologi yang terus berkembang hingga action research/ participatory bersinggungan dengan model-model evaluasi, yang masuk dalam bingkai Intuitionist-pluralist evaluationyang dikenal dengan model evaluasi dengan pendekatan naturalistic & participant-oriented. Sejumlah nama yang konsen pada bidang ini antara lain Stake, Guba dan Patton.

Butuh waktu yang panjang mengenal jelas model evaluasi yang beredar di dunia perevaluasian (seperti dunia persilatan), mengobservasi atau pun mencobakan bagaimana setiap model diaplikasikan dalam suatu program atau kegiatan.Sampai pada kesimpulan dapat menentukan beragam model evaluasi dengan akurat pada persoalan-persolan yang akan dievaluasi.

Ilmu memang tidak pernah ada habisnya, hanya umur yang bisa habis.. xixi

Dimana pun kita, Kematian itu Begitu Dekat

Manusia hanya punya rencana karena apa yang terjadi tidak selalu sama dengan apa yang direncanakan. Hari minggu pagi, Ibu setengah baya yang selepas olahraga berbelanja di pasar kecil bisa jadi telah terbayang bisa memasak untuk keluarga, namun apa yang terjadi saat berbelanja tiba-tiba sakit perut yang luar biasa sehingga terjatuh. Orang-orang di sekitarnya dengan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Tidak lama di rumah sakit dalam proses pengecekan, nyawanya melayang meninggalkan jasad. Tidak ada yang bisa dihubungi dan diketahui darimana berasal. Karena tidak ada Kartu tanda Penduduk (KTP) maupun telepon genggam. Masuklah jasad yang tidak lagi bernyawa itu ke dalam kamar mayat.

Sungguh hidup tidak pernah disangka. Ajal begitu dekat, sampai tidak mau menunggu hingga ada di tengah keluarga. Dimana pun yang Maha memiliki jiwa ini hendak mengambilnya tidak ada satu pun yang dapat menundanya.

Seribu kali keluarga, orangtua, sahabat begitu menyayangi namun belum tentu mendapati saat keadaan yang tersulit, menghadapi sakitnya ajal menjemput. Kebaikan dan kepedulian orang yang tidak dikenal dengan izin Allah memberikan bantuan. Namun kadang selagi hidup tidak mudah berinteraksi dan meberikan kebaikan kepada orang yang tidak dikenal. Orang-orang lebih banyak menaruh curiga kepada orang yang tidak dikenal. Memang disatu sisi mesti waspada, tetapi perlu juga melihat kondisi yang ada. Kecurigaan yang tidak beralasan, membuat prasangka-prasangka yang dapat mempengaruhi perilaku dan merugikan.

Hidup adalah kebaikan, karena kebaikan akan berbuah kebaikan. Kita tidak pernah mengatahui bagian mana dari kebaikan ini yang melindungi kita dari suatu keburukan. Dan tidak pula setiap kebaikan dapat memenuhi akan kebutuhan yang kita perlukan. Segalanya adalah karunia Allah, kasih sayang Allah. Seluruh kebaikan yang kita buat beum tentu mampu mengimbangi akan kasih sayang yang telah Allah beri. Kebaikan tulus karena Allah, tanda syukur atas segala nikmatnya. Tidak perlu lagi ditakuti akan apa yang terjadi. Karena Allah telah mengatur segalanya.

Namun demikian sebagai usaha memudahkan indentifikasi saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saat berpergian sendiri khusunya maka perlu beberapa hal yang dipersiapkan meskipun kita berangkat ke tempat yang dekat sekalipun yaitu: 1) izin atau memberi tahu kemana akan pergi dengan orang yang di rumah, artinya jika kita pergi hendak kemana ada yang mengetahuinya. 2) jika memungkinkan membawa dompet pastikan ada KTP, 3) jika memungkinkan membawa handphone, jangan lupa nama di nomor kontak handphone yang jelas, kalau orangtua, suami atau istri disertakan keterangannya. 4) baca doa sebelum pergi mohon perlindungan kepada Allah, berserah diri kepada Allah, apa pun yang terjadi saat diperjalanan atau dalam berpergian semoga Allah memberikan yang terbaik.

Kadang dalam kondisi tertentu tips di atas tidak semua berlaku. Tidak ada orang yang di rumah, tidak perlu bawa KTP atau handphone. Tetapi nomor empat itu yang sangat mungkin. Kept doa.

 

 

70 Tahun Merdeka

 

Semarak menyambut 70 tahun Indonesia merdeka terlihat dari berbagai atribut yang di pasang di rumah pribadi maupun tempat umum seperti gedung perkantoran dan instansi pemerintah. Di bawah bacaan 70 tahun Merdeka tertulis juga anjuran ‘Ayo Kerja’. Selintas berpikir sudah 70 tahun sarannya ayo kerja, emangnya dulu apa yang dikerjakan? Ada apa dengan bangsa yang sudah 70 tahun merdeka ini? bagaimana penduduknya? Pemerintahannya? Tingkat dan kualitas pendidikannya? Ekonominya? Infrastrukturnya? Banyak lagi yang menjadi tanya-tanya.

Pada masa penjajahan fisik semua menyadari dan memiliki satu tujuan bersama mengusir penjajah dengan segenap kekuatan, senjata seadanya dengan tombak, panah dan senjata lain yang kalah moderen dengan penjajah. Tetapi meski demikian semangat dan tujuan yang sama menjadi kekuatan untuk meraihnya. Saya kira juga tidak lapas dari doa para pejuang, mereka orang-orang yang sholih. Pembukaan undang-undang menegaskan dengan kalimat, “Berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa” artinya sadar betul bahwa sesungguhnya segala kondisi yang terjadi hingga Indonesia merdeka bukan secara kebetulan tetapi sudah menjadi ketentuan yang diberikan kepada bangsa ini.

Setelah kemerdekaan diraih, upaya mengisi kemerdekaan menjadi cerita yang berbeda. Dulu sesama pejuang berpikir keras untuk mengusir lawan atau penjajah. Setelah merdeka pun sama berpikir keras untuk menyingkirkan lawan. Merdeka tidak merdeka pikirannya sama. Hasilnya tidak jauh beda. Banyak kepentingan yang saling tarik menarik sehingga tidak tentu arah dan bahkan kehilangan arah. Ibarat sebuah bahtera begitu banyak nahkoda, semuanya ingin sampai kepada tujuan, tujuan yang banyak dengan satu kendaraan, mestinya bisa dikompromikan, tetapi sayang kadang sulit diatur dan mengatur, yang akhirnya berjalan masing-masing. Pastinya tidak pernah melesat dan dapat melaju dengan jauh.

Persaingan dengan bangsa-bangsa lain tidak dapat dihentikan. Kesepakatan-kesepakatan untuk menciptakan wilayah tanpa batas, bebas untuk melakukan ekspansi pendidikan dan ekonomi dari negara-negara lain yang masuk sudah sangat terasa. Rumah yang rapuh tidak cukup kuat untuk menahan hempasan badai. Pantas jika anjuran digaungkan kini yaitu untuk “Ayo Kerja”, perbaiki semuanya agar makin kuat dan kokoh.

Memperhatikan lingkugan di sekitar rumah pun kita sudah disuguhkan beragam persoalan. Hidup disuasana kampung tetapi tidak mudah mendapati semangat kampung seperti bergotong royong, memperhatikan kebersihan lingkungan, menghiasi lahan pekarangan dan samping rumah dengan tanaman yang dibutuhkan sendiri dan menjaga keamanan lingkungan. Meski pun ada yang melakukannya tetapi gerakan itu bukan dari gerakan kesadaran kolektif.

Melihat pendidikan anak-anak pun tidak membuat kita merasa puas dengan apa yang telah mereka pelajari di sekolah. Mereka kehilangan adab, pantas jika tidak beradab dan kadang biadab, sesama teman saling melukai, lihat saja tawuran pelajar yang tidak pernah selesai dan dapat diselesaikan oleh siswa itu sendiri. Selalu ada pemicu mereka untuk berkelahi. Apa yang mereka perbincangkan saat berkumpul dalam kelompok, sangat jauh dari pelajaran sekolah. apa yang terjadi di rumah, tidak ada arahan dan teladan. Orangtua mereka pandai dan cerdas tetapi mereka mencurahkan perhatiannya untuk pekerjaan kantor. Uang dianggap cukup untuk menggantikan ongkos pendidikan anak. Sekalipun ada orangtua di rumah tetapi tidak punya program untuk memetakan kegiatan di rumah, karena keterbatasan dengan alasan domestik, pekerjaan rumah yang melelahkan.

Anak-anak adalah harta bagi orangtuanya, bukan saja menjadi aset bangsa di dunia, tetapi juga di akhirat. Jika anak tidak didik menjadi orang yang baik, orang yang sholih, tidak akan sampai doa-doa anak sholih itu kepada orangtuanya yang telah meninggal lebih dahulu. Orang yang sholih bukan sekedar menggunakan baju koko dan sarung, anak sholih adalah anak yang berkembang segala potensi positifnya dengan tetap bertaqwa kepada Allah. Perjuangan yang tidak mudah untuk bisa sampai mencapai itu. Pribadi-pribadi yang kokoh dan kuat akan menegakan pilar-pilar bangsa di masa mendatang.

Ayo Kerja dan ayo terus bekerja adalah anjuran yang tidak pernah berhenti selama ada kehidupan.

 

 

 

 

Hanya ada Syukur atas segalanya

 

Bayangkan seandaiya dalam kehidupan terburuk hidup ini berakhir. Rasanya siapapun tidak ingin dan tidak akan melakukan hal buruk dalam hidup jika mengingat akan berakhirnya kehidupan saat itu. Tetapi hidup penuh dinamika, kita tidak pernah tahu akan apa yang terjadi ke depan. Selain syukur dan doa memohon perlindungan-Nya.

Selepas berjama’ah subuh di masjid seorang ibu muda menghampiri, dia meminta doakan hendak operasi pengangkatan myoum dan rahim dalam dua hari ke depan ini. saya teringat cerita seorang ibu yang juga mengalami hal sama. Betapa berat kenyataan, namun demikian hidup harus selalu disyukuri.

Terkadang musibah atau berkah menjadi jalan untuk muhasabah diri, mengkoreksi diri sendiri dan memperbaiki diri. Kita tidak pernah mengetahui masa lalu orang lain, dan memang tidak mesti mengetahuinya. Saat kini dan hanya sebagian kini dari orang yang kita kenal yang kita mengetahui, jika ada cerita masa lalu, tidak pernah bisa kita memastikan masa lalu seseorang berhubungan dengan kehidupan kini. Cukup urusan Allah yang mengetahui perilaku-perilaku hambanya.

Tidak ada yang disia-siakan atas kebaikan apapun yang kita lakukan, seandainya bersabar dan menerima atas semua ketetapanNya rasanya tidak ada yang perlu diberatkan. Tentu bukan hal mudah bagi orang yang mengalami suatu musibah untuk bisa bersabar. Karena ada bagian yang teramat berharga dan mulia di balik sebuah kesabaran.

Kita tidak akan mampu mencapainya tanpa pertolongan Allah. Hanya karena karunia Allah segalanya menjadi ringan. Saya sangat percaya, saat mendekat selangkah demi selangkah semakin hati bertambah tenang dan terasa ringan semua beban. Tidak ada harapan kecuali kebaikan atas diri sendiri, orang terdekat dan semua orang.

Jika seseorang mengalami suatu penyakit, sesungguhnya Allah sedang sayang kepadaNya. Pahala besar telah disediakannya. Dosa-dosa yang telah lalu telah digugurkannya. Beruntunglah orang sakit dan mendapat musibah. Sejauh bisa sabar telah tersedia bagian pahala. Allah dan dirinya menjadi dekat, setiap kali saat terasa sakit kepada siapa meminta pertolongan dan memohon diringankan rasa sakit, kecuali kepada Allah. Dokter dan obat-obatan hanya menjadi jalan kesembuhan, hakikatnya Allah yang menyembuhkan.

Teiring doa semoga Allah berikan yang terbaik, kesabaran dan kesembuhan kepada sahabat yang sedang disayangi Allah.

Memperkuat rasa syukur akan menambahkan kenikmatan atas apa yang ada.

Menulis bener, Beneran sulit

 

Biarpun sekolah sudah sampai mau habis diujung tingkat, tetapi pekerjaan menulis adalah bukan hal mudah. Apalagi menulis beneran, maksudnya menulis yang dapat difahami orang lain, logis dan sistematis, dan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau menulis asal bunyi, dan sesuka hati tentu tidak sulit. Saya biasa melakukannya, mungkin karena biasa inilah, akhirnya saat menulis beneran, komentar pertama adalah tulisan saya adalah tulisan yang menggunakan bahasa lisan. Kedua struktur kalimat berantakan, ketiga, yang membuat saya senang, tidak semua tulisanya begitu masih ada yang bagusnya. (sepertinya ketiga itu energi untuk memperbaiki)

Sekolah dan belajar bertahun-tahun sejak SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dan kuliah S1 4 tahun. Paling tidak 16 tahun belajar, mestinya cukup untuk modal menulis. Dan memiliki kemampuan baik dalam menulis. Namun ternyata tidak semudah itu. Meskipun telah menyelesaikan pendidikan di tingkat tinggi bukan jaminan untuk tidak gagap menulis, piawai dalam menyapaikan ide dan menjadikan bacaan yang mudah difahami orang.

Selama belajar di sekolah formal, apalagi saat mahasiswa, pekerjaan membuat tulisan berupa artikel atau makalah sudah biasa. Tetapi tugas itu dianggap hal yang biasa. Tidak diperhatikan seperti apa dan bagaimana penulisan yang baik. Tidak jarang tugas itu dipenuhi dengan cara yang tidak semestinya seperti mencopy pekerjaan orang lain, atau menulis dengan alakadarnya. Dosen yang memberi tugas pun tidak menyadari itu, yang diperhatikan adalah konten pemaparan saat diskusi. Alhasil tulisan yang dibuatnya tidak diketahui baik atau buruknya.

Saat menulis tugas akhir seperti skripsi, tesis atau disertasi barulah terlihat. Itu pun jika dosen pembimbing adalah orang yang sangat memperhatikan tulisan. Saat itulah belajar dan mendapat pengalaman bagaimana menulis dengan benar. Mestinya beruntung mahasiswa yang mengalami hal ini (termasuk saya.. hiiks). Dengan begitu dapat mengetahui seberapa baik kemampuan menulisnya.

Saya mengalami dinamika menulis, kadang dipuji dan kadang dimaki. Saya sendiri tidak faham, rasanya buat saya sama saja, menulis dengan biasanya dan apa adanya. Tetapi setelah penilaian itu datang, saya baru menengok ke belakang apa yang terjadi saat saya menulis pembahasan itu. Ya, saya mengira-ngira, tulisan yang dianggap orang lain bagus biasanya saya menuliskannya dengan bahan yang memadai, waktu yang tenang, pikiran dan hati yang sedang bersahabat. Tetapi saat tulisan buruk, yang kalau saya baca ulang sendiri pun tidak faham maksudnya, itu tulisan biasanya ditulis saat bahan bacaan yang semraut, banyak ide yang berserak, pikiran dan hati yang kalut. Hasilnya pembimbing saja tidak faham dari apa yang dituliskan, bagaimana dengan lainnya. (ampuun..)

Tidak ada yang tidak bisa dipelajari dan diperbaiki. Dengan kesungguhan, konsentrasi dan terus memperbaiki saya yakin akan sampai. Meski itu tidak mudah. (tolooong…)

 

15 Eating Habits That Make You Live Longer

Sebenarnya bagi kita sdh sangat jelas bagaimana yg Rasul tunjukkn kpd kita. Apa yg dimakan, cara makan, dst.. this articles remain .me. thanks

TIME

For more than a decade, I’ve been working with a team of experts to study hot spots of longevity—regions we call Blue Zones, where many people live to 100 and beyond. They are the Greek island of Ikaria; the highlands of Sardinia; the Nicoya Peninsula in Costa Rica; Okinawa, Japan; and Loma Linda, Calif., home of the highest concentration of Seventh-day Adventists in the U.S. Remarkably, we’ve learned that folks in all these places share similar rituals and practices surrounding food. (Hint: They don’t count calories, take vitamins or weigh protein grams!) After analyzing more than 150 dietary studies conducted in Blue Zones over the past century, we came up with a global average of what centenarians really eat. Here are 15 age-old diet tips to borrow from the longest-living people on the planet.

Get 95% of your food from plants

Produce, whole grains and beans dominate meals all year…

View original post 1,192 more words

Percik Bacaan QS 45:21 – Konsekuensi Perbuatan

 

Inspirasiku pagi ini, Ar Rabi’ bin Khutsaim, dia Tabi’in murid Ibn Mas’ud ra. Sepanjang hidup orang yang bersamanya tidak pernah mendengar kata-kata yang kotor keluar dari mulutnya. Dia menjaga anggota tubuhnya. Menjaga pandangan, menjaga lisan, dan menjaga hati. Terlihat dari apa yang kubaca bagaimana cara Ar Rabi’ mendidik jiwa sangat patut ditiru.

Pernah suatu ketika saat Ar Rabi berada dalam masjid, ada sekelompok perempuan yang hendak ke masjid. Ar Rabi tidak sedikitpun menengok atau mengubah posisinya sedikit pun hingga perempuan-perempuan itu keluar. Memang tidak sedikit pandangan yang akhirnya membawa kepada penyesalan hidup yang berkepanjangan.

Bermula dari pandangan yang tidak terjaga, terlebih kepada lawan jenis. Pandangan yang tidak dikendalikan. Tidak salah jika bertemu pandang tanpa sengaja, itulah adalah anugrah. Namun setelah itu selesai tidak perlu diikuti segala angan dan khayal.

Setan sangat lihay, membuat perangkap agar kita mengikuti dorongan nafsu. Mengikuti pandangan kedua, mengutarakan perasaan hati, dan menunjukkan dengan perilaku. Masuk pada suasa bathin yang guncang, yang jika disadari telah jauh berjalan dalam langkah yang tersesat. Jika sudah begitu tentu tidak mudah membersihkan noda yang terus bertumpuk. Wajar jika bersusah payah menghadapi kesedihan, kegelisahan dan kehidupan yang berantakan. Namun satu sisi ada ketidak berdayaan melepas apa yang telah masuk ke dalam hati.

Tidak ada jalan untuk mengobati segala apa yang menjadi beban dalam hidup, kecuali dengan membersihakan jiwa, mendekat dan banyak beribadah hanya karena Allah. Itu pun belum tentu tuntas, kehidupan ini teramat rumit dalam pertentangan antara nafsu dan ketaatan. Jangan pernah berhenti memperkuat diri dengaan hal-hal yang positif.

Apa yang diucapkan lisan bagian dari cerminan jiwa kita sendiri. Betapa eloknya orang yang tidak pernah kita dengan mengeluh meski kita mengetahui betapa pahit hidup yang dialaminya. Tidak menjelekkan orang yang, meskipun dia teraniaya. Tidak mengeluarkan kata makian meskipun pantas dan manuasiawi jika diutarakan pada kondisi yang sedang dihadapinya. Pilihan untuk tetap berkata baik, dan memohonkan kebaikan kepada orang yang telah menzholiminya. Pekerjaan yang sangat luar biasa. Cara mendidik jiwa dengan berkata baik atau diam. Ar Rabi’ menginspirasikan ini.

Sepanjang hidup, saya merasa ada orang yang terluka dengan lisan saya, meskipun saat itu saya tidak bermaksud demikian, namun nyatanya apa yang saya ucapakan melukai hati orang. Saya tidak tahu apa yang mesti dikatakan kembali, hati telah tergores. Namun selama saya masih bisa berbuat, meminta maaf dan memberikan kebaikan dan belajar mengendalikan lisan sedikit membuat hati ini tenang. Saya kira tidak ada manusia yang suci tanpa salah dan dosa. Saya termasuk manusia itu, Beruntunglah ada Allah yang Maha Mengampuni.

Kemampuan mengendalikan diri, dengan cara mengikat hati hanya kepada Allah. Memohon ampunan setiap saat. Karena manusia hidup tidak pernah luput dalam berbuat yang tidak berkenan bagi orang lain. Manusia memang tempatnya salah dan dosa. Namun Allah sangat suka dengan orang yang selalu meminta ampunan dan mendekat kepada Allah.

Sibuk dengan memperbaiki kekuarangan diri, menjaga perasaan dan menghargai orang lain, layaknya diri ini ingin diperlakukan orang lain. Tidak ada orang yang suka jika keburukannya disebut. Allah saja menutupi aib yang ada pada orang, selama dia tidak membukanya. Tentu apa urusan kita menceritakan aib saudara sendiri.

Kesadaran itu kadang lepas ketika berkumpul dalam kelompok yang memang sedang membicarakan orang, dengan ringan dan tanpa sadar, kita sendiri terpancing untuk bercerita tentang keburukan orang lain. Sungguh memang tidak mudah untuk dapat mengendalikan diri, karena itu istighfar tiada henti. Allah maha luas ampunannya.

Tidak ada yang terlewat dalam catatan Allah, meski kita mampu menutupi segala keburukan yang ada dalam diri, sehingga tampak bagus di hadapan orang lain. Namun tidak di hadapan Allah, keburukan apapun yang kita perbuat, sangat jelas dihadapan-Nya.

Setiap yang dilakukan terdapat konsekuensi. Terus menerus dalam kejahatan dan keburukan akan menelan kehinaan. Karena memang tidak akan pernah sama antara yang selalu memohon ampunan dengan orang yang bangga dengan dosa-dosa.

Bagaimana Allah akan memberi pertolongan dan keberkahan, sementara kejahatan dan keburukan tidak pernah berhenti dikerjakan. Jangan pernah mengira sama perlakuan bagi orang yang sholeh dan salah.

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” QS. 45:21

Menerima segala konsekuensi dari perbuatan, dengan tetap bermohon ampunan. Kiranya segala apa yang menjadi beban dan akibat dari keburukan dapat berkurang. Mendekat dan terus mendekat kepada Allah dan berbuat kebaikan. Hingga masa tiba, kembali kepada-Nya. dan Allah ada dalam hati, lisan dan perbuatan kita.

Semangat pagi, meraih berkah dan menebar kebaikan.

15.04.15. # 07.11. Bogor.