Menulis sebagai Pilihan

Menulis hanya untuk kebutuhan sendiri dan disimpan pribadi, kira-kira apa manfaatnya? Mungkin bisa juga itu bermanfaat untuk menetralisir emosi diri dengan cara menuliskan apa yang ada dibenak, dialam fikir dan rasa,setelah itu akan merasa lebih lega. Artinya secara kesehatan kegiatan ini sangat bermanfaat.  Namun secara sosial, siapa yang bisa baca tulisan tersebut, siapa yang akan mengambil manfaat,  dan siapa yang akan nyiyir , komentar dan menjadi balikan yang positif bagi penulisnya? Inilah gunanya menulis dan memposting tulisan agar terbaca oleh khlayak.

Saya termasuk yang mana ya?  Awalnya waktu saya di tingkat SMP saya menulis hanya untuk keperluan sendiri, buat cerita dan tanya jawab sendiri, buat tokoh khayal, dibaca sendiri. Waktu itu saya ada di asrama, suatu ketika secarik tulisan saya mungkin terjatuh dan ditemukan oleh teman. Dia membacanya  dan merasa geli dengan tulisn yang saya buat.  Saya tidak mengira tulisan sesingkat menarik perhatiannya. Saya sendiri sudah lupa tulisan yang mana. Waktu itu saya sedang tertarik  dengan bacaan  yang tokohnya adalah “Lupus” yang mengalami masa remaja dan membaca judul itu ketahuan dech betapa sudah tuanya.

Kemampuan menulis yang  tidak terasah dan menjadikan kegiatan ini hanya  sebagai suatu hiburan, jika sibuk dengan kegiatan lain, menulisnya ditinggal, tetapi dalam batin ada rasa kengen dengan mengurai cerita yang berkemelut di benak sendiri melalui tulisan. Kangen dengan bagaimana  rasanya lomba antara jari tangan mengetik dengan derasnya fikiran yang ingin dikeluarkan, terkadang sampai terlewat, karena ide itu banyak dan cepat pergi. Tulisan yang muncul itulah yang menyerap dan berusaha disampaikan. Bahasa yang kadang begitu sulit untuk menerjemahkan apa yang ada dalam benak, ketika membaca ulang terasa lain dari apa yang difikirkan. Proses mengubah isi sesuai dengan apa yang dimaksud inilah memang tidak lepas dalam proses kegiatan menulis.

Kesibukan kerja yang lain telah menyita waktu meditasi dengan duduk  dan mengurai kata, memejarakan untuk  mengalirkan fikiran lewat kata.  Setelah lama berlalu barulah terasa melihat terakhir tulisan yang diposting di beberapa blog, ternyata sudah bebebrapa tahun terlewat. Beruntung pekerjaan sebagai pengajar  yang  juga tidak lepas dari kegiatan menulis, bedanya dalam akademik tulisan isinya serius.  Pekerjaan memberikan pandangan, arahan, saran bagi pelajar sedikit menampar pipi sendiri saat menceritakan dan menganjurkan muridnya agar memiliki kemampuan menulis.

Cerita saya kepada dua mahasiswa perempuan, saat mereka datang dengan sedikit keperluan akademik, lalu mereka saya tahan sebentar, baru beberapa bulan   saja mereka  wisuda.  Pertanyaan klasik menanyakan sekarang aktivitasnya apa? Sebuah anugerah jika telah diserap dunia kerja, tetapi jika belum pun bagi saya itu anugerah yang lebih besar lagi. Sebab dengan begitu ada banyak waktu untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat diri. Sebuah  musibah jika tidak mampu mengembangkan diri. Ada baiknya memeiliki kemampuan yang tidak banyak bergantung kepada pihak lain. Mampu produktif berkarya melejitkan potensi yang ada dalam diri.

Saya perhatikan  jika para wanita bekerja, mau tidak mau sesungguhnya pekerjaan yang utama itu berada di rumah. Saat mereka harus mengandung, melahirkan dan menyusui adalah masa dimana terjadi pertarungan antara tugas bekerja di kantor dan tugas di rumah. Meskipun cuti, itu hanya beberapa waktu, ada tugas besar lain menunggu yaitu bagaimana merawat, mendidik dan membesarkan anak mereka  pasca cuti lahir.

Sungguh bukan perkara mudah tugas setelah melahirkan anak.  Di tengah tatangan era global, digital, milenial, kemajuan teknologi, sangat memperihatikan bagaimana anak-anak yang ditinggal orangtua bekerja, diserahan kepada orang yang kadang pengasuh, kemudian diasuh tanpa arah, meraka tumbuh besar secara fisik tetapi  tetapi jiwa, bathin, dan kelekatan jauh  orangtuanya.  Akibatnya menumbuhkan keluhan yang panjang, seperti masalah anak kecanduan game, perkataan kasar, sulit diarahkan dan lainnya, yang makin besar makin jauh dari apa yang diharapkan orangtua.

Dimana pun adanya orangtua memiliki harapan yang baik terhadp anak-anaknya, mereka ingin anaknya yang memiliki kesehatan, kekuatan pribadi, akhlak yang baik, keterampilan yang menopang hidup mereka, dan memiliki kemampuan dasar-dasar agama,  dalam Islam dinamakan fardu ain kemampuan dalam menjalankan kewajiban yang standar dengan baik.  Seperti kemampuan membaca qur’an,  berwudhu, bacaan shalat, mengerjakan shalat wajib dengan tertib, dan puasa. Nyatanya ada banyak orangtua yang kesulitan  memupuk dan melihat kewajiban itu secara rutin dilakukan oleh anak .

Membaca qur’an belum lancar sudah berhenti mengaji, shalat belum hafal betul bacaannya sudah sering lalai shalat, ini musibah bagi orangtua. Bagaimana anak-anak akan menapaki hidup, mereka sendiri, jika mereka tidak mampu bagaimana cara dan kehendak yang Maha Pencipta atas diri mereka.  Bila tidak ingin terjadi tentu tugas orangtua saat merawat, mendidik dan membesarkan anak dipenuhi kebutuhan dasar agama anak-anak dan terus dibimbing hingga mereka sampai dewasa. Setalah itu dipupuk dan terus saling mengingatkan, sampai pada akhirnya memahami  bahwa hidup in adalah berlomba dalam kebaikan. Pada saatnya nanti  berjumpa di tempat yang terindah sebagai balasanya.

Artinya perempuan memiliki keunikan kerja yang berbeda dengan laki-laki.  Waktu  yang digunakan harus lebih banyak di rumah dan memantau perkembangan anak, maka banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh perempuan di rumah, selaian mengurus rumah tangga. Dan bahkan pekerjaan ini dapat mendukung pekerjaan rumah tangga. Ini dia jenis pekerjaannya

  1. Penulis

Menulis merupakan kegiatan yang mampu mengembangkan wawasan berfikir, memiliki nilai manfaat , bahkan tidak sedikit popularitas dan finansial pun mengikuti dari suksenya pekerjaan ini.  Di rumah sangat bisa untuk melakukan kegiatan ini. Jika keluhan tidak bisa menulis maka bisa belajar lewat membaca tulisan orang lain.  Saya menjadikan blog  sebagai hiburan dari keseriusan dan kekakuan menulis karya ilmiah atau paper.  Kalau saya lihat hasilnya, ternyata luar biasa untuk ukuran saya yang  pasif  mendapatkan pembaca  tulisan saya sebanyak 32 ribuan di kompasiana.  Artinya ada juga yang lihat tulisan saya, mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca.

 

  1. Pedagang

Berdagang jadi pilihan menarik, apalagi memang memiliki jiwa berdagang yang kuat. Kemudahan teknologi dan media online jadi sarana yang sangat mendukung. Pekerjaan ini bisa dilakukan di rumah.  Coba saja survey dan bagaimana hasilnya.

 

  1. Memproduksi barang

Membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang, terlebih adalah barang yang menjadi kebutuhan orang banyak, ini menjadi peluang pekerjaan.  Seperti membuat asesoris, membuat pakaian, makanan atau lainnya dan  ini bisa dikerjakan di rumah. Bahkan memperkejakan orang banyak.

Silahkan pilih mana yang mungkin bisa dikembangakan. Ini kegiatan alternatif ketika harus memilih untuk di rumah,  bisa bekerja dan mengawasi kegiatan anak. Tetapi perlu hati-hati jika kebablasan mengerjakan kerja alternatif,bisa jadi meski di rumah tetap saja anak kurang mendapat perhatian. Memilih sesuai dengan hasrat diri, mendengarkan kata hati yang positif, jauh lebih baik. Percayalah kebaikan lain akan datang menghampiri.

Salam Bahagia ala Ant1

Dikeheningan dini hari di Bogor, 8 Juli 2018

 

 

Advertisements

Terbang dan Berpetualang

Sekeras apa pun keadaan yang dihadapi
maka komitmenlah yang membuatnya kuat dan bertahan.

Dalam setiap perbuatan yang kita lakukan tersimpan niat yang mendasarinya. Tidak ada orang yang mengetahui niat sesungguhnya dalam diri setiap orang. Hanya orang itulah yang memahami niat yang sebenarnya. Meskipun niat itu tersembunyi jauh dalam lubuk batin seseorang, namun niat dapat menyembul dalam gambaran perilaku dan kecenderungan seseorang dalam bertindak.

Niat baik dan niat busuk akan mengeluarkan aura dalam interaksi, kegiatan yang berjalan, mengambil sebuah keputusan, arah pemikiran atau lainnya. Niat itu yang akan memberikan bias auranya dari setiap laku kita. Saya tidak akan membahasi niat busuk, karena tidak ada yang patut menghakimi niat seseorang, kecuali dirinya sendiri dan akibat dari perilakunya sendiri. Sebaiknya kita belajar meluruskan niat dan membangun niat yang baik dalam setiap perbuatan dan hidup ini.

“berangkatlah kalian dengan niat dakwah” ini penggalan pesan yang disampaikan kepada para mahasiswa yang akan melakukan praktek dan pengabdian di lapangan yang bertempat di luar negeri, tepatnya Negara Thailand Selatan. Mengapa pesan ini penting disampikan? Apa dampaknya jika ditekadkan dalam diri seseorang?

Di tempat yang baru, tidak semua keadaan yang dihadapi akan nyaman. Banyak terdapat kemungkinan yang terburuk dalam hidup, namun tidak sedikit hal-hal yang manis yang mungkin dirasakan. Semua kembali kepada bagaimana niat dan sikap diri seseorang dalam menghadapi keadaan tersebut.

Niat dakwah adalah niat yang indah dan manis bagi siapapun yang merasakannya dengan ketulusan hati. Apa sesungguhnya niat dakwah? Niat ini hanya tercatat dalam batin terdalam seseorang tentang apa yang dilakukannya sepenuhnya hanya karena Allah, niat mengajak untuk bersama-sama mencintai kebaikan, kebenaran dan bersungguh-sungguh melakukannya. Tidak peduli pedih, sakit dan kesulitan apapun. Karena memang tidak mudah menghadapi keadaan dengan tetap bersahaja, kecuali orang yang memiliki komitmen.

Percaya di mana pun bumi dipijak, Allah selalu ada. Karunia Allah terhampar dimanapun kita berada. Berikan yang terbaik, dan jangan berharap mereka yang membalas segala kebaikan kita. Kembalikan segalanya kepada yang Maha menentukan. Percaya bahwa segalanya tidak akan disia-siakan.

Jadilah seorang petualang, pengembara yang tidak memiliki tujuan kecuali tujuan kembali dalam keadaan dan niat yang terbaik dalam diri. Tidak ada kepentingan yang menungganggi yang bersifat sementara dan merusak keadaan. Belajarlah dalam setiap langkah, ambil yang terbaik. Segalanya akan berpulang kepada diri sendiri.

Pesan ini tidak hanya bagi mahasiswa yang hendak berangkat KKN keluar negeri, tetapi ini juga menjadi pesan bagi saya pribadi dalam menjalankan tugas dan peran. Segalanya diniatkan untuk ibadah, mencintai kebaikan, bersungguh-sungguh menegakan kebenaran. Allah yang Maha Mengetahui dan bermohon kepada Allah untuk tetap berkomitmen pada jalan-Nya.

At home, 18 Nopember 2016. When the other sleeping and dreaming at 02.37

Bumiku Pijak, Keluar dari Bumi

bumi.jpg

“Mah, bagaimana bisa keluar dari Bumi? Pertanyaan yang berulang ditanyakan oleh  anak umur 4 tahun.

Pertanyaan yang spontan, meski sering diucapkan. Aku tidak heran mengapa pertanyaan itu menyembul di otak anakku yang bungsu. Karena beberapa kali dia melihat tayangan video tata surya, dan menanyakan kepadaku nama-nama benda yang bergerak di video itu. Aku menyebutkannya kadang sembarang, namun yang hafal dan akrab dengan ku, itulah bumi. Berbeda dengan benda lain, bumi berwara biru. Aku ceritkan bahwa bumi banyak mengandung air, dan air itu adalah sumber kehidupan utama bagi makhluk hidup. Anak sekecil itu entah paham atau tidak aku rasa tidak masalah.

Kebiasaan berfikir yang terbalaik dan melawan arah fikir inilah yang membuat bahasa anak ini berbeda. Saat cerita bumi, maka dia akan berfikir bagaimana keluar dari bumi.  Begitu pula saat bermain, misalnya saja main tanah, aku bilang “di tanah banyak cacing” ringan anak itu akan menjawab, “aku mau cacing”.   Ku rasa dia menjawab demikian untuk mempertahanan apa yang dilakukannya agar tidak cepat berlalu. Saat main diluar panas terik, aku katakan, “main diluar panas, ayo masuk ke dalam”. Bisa dibayangkan dia akan jawab apa untuk mempertahankan kemauannya. Yap. “aku mau panas-panas”.

Tidak begitu banyak menarik dari kebiasaan itu, karena mungkin masih dini, dan juga pola jawaban yang sudah bisa ditebak. Tetapi ada hal yang ikut terpikir dibenakku saat bicara bumi. Tempat kehidupan ini berlangsung. Tempat bersemayam jasad kaku di dalamnya, karena ruh tentu telah lepas entah ada dibagian mana.

Kehidupan menghadiran kesenangan, kebahagiaan, kesedihan, kemalangan dan bermacam perasaan menyertai setiap lakon dalam hidup ini. Di bumi, tempat segala amal terkumpul untuk bekal perjalanan. Karena bukan bumi tempat akhir dari kehidupan manusia ini. ada perjalanan panjang yang menetukan kebagiaan dan penderitaan abadi.  Maka siapa pun berharap kebahagiaan yang abadi.

Hidup setelah mati, sesuatu yang sangat misteri. Aku membayangkan bisa berjumpa dengan orang-orang yang aku kenal dalam kebahagiaan. Entahlah apa yang dilakukan di sana. Sangat tidak mudah difahami, yang pasti dunia ini jembatan, kehidupan yang singkat untuk menuju keabadian. Segala amal akan ditentukan balasnnya di akhir nanti.

Tentu di antara kita tidak ada yang memiiki amalan yang seragam. Sehiangga nanti jika diperhitungkan amal akan masuk pada tempat yang sama. Ya, tentu tidak sesederhana memesan tiket nonton bioskop, yang bisa tentukan tempat mana  kita bisa duduk bersama.

Setiap kita berbeda. Beramal yang serupa pun belum tentu mendapat balasan yang sama.  Beramal banyak pun belum tentu akan dapat membayar syurga. Karena syurga tidak berlabel harga sepersekian amal. Sungguh tidak bisa dapat kita prediksikan amal dan balasan dari semua apa yang kita kerjakan, kecuali mengharap keridhoan dari yang Maha memiliki segalanya. Allahu Robbii…

Menerawang jauh, bumi tempat yang kini bisa kurasakan hembusan udara, tetesan air dan hiruk pikuk kehidupan. Hal yang sama dapat dinikmati setiap yang bernyawa. Yang membedakan di antara kita, seberapa besar tanda syukurmu atas semua ini.

Khayalku, anakku…

Terbang tinggi ke atas sana, kau akan keluar dari bumi.

Singgah di bulan, melonggok mars

Berkejaran bersama gemintang

Bila segala materil ini memberatkan

Terbanglah dengan segala makna kebaikan

Ringan, menghujam, bercahaya dan cepat bagai kilat

Hatimu yang menentukan

Amalmu yang menguatkan

 

Di Bumi, 17 Juli 2016.

 

Tips Menumbuhkan Sikap Positif

Setiap kita tumbuh dengan beragam pengalaman hidup. Sejak mula bayi hingga terus bertambah usia, bertambah pula pengalaman. Belajar adalah salah satu pengalaman, kehidupan diluar pun menjadi pengalaman.  Seiring waktu begitu padat hari-hari dengan beragam pengalaman.

Setiap hari adalah kehidupan baru. Tidak pernah sekalipun kita mengalami keadaan yang sama. Karena sesunguhnya meski kejadian sama, waktu sudah berbeda, cara sikap tidak akan selalu sama, tempat dan waktu yang menandai saja bisa berbeda,  belum lagi sikap diri dan sekitaran juga membuat beda. Setiap hari memang berkah hidup yang patut dimaknai dan disyukuri.

Setiap hari dalam sekian detik ke depan, tidak pernah ada yang bisa mengira apa yang bakal terjadi. terlebih kematian adalah misteri yang akan mendatangi siapa pun. Jika memahami hakikat hidup di dunia  maka setiap kita akan mengambil sikap sesuai dengan apa yang menjadi keyakinannya.

Hidup bagi orang yang berkeyakinan bahwa ini sementara sebagai tempat beramal sebagai bekal kembali pada kehidupan yang panjang di alam akhir akan berbeda sikap hidup dengan orang yang berkeyakinan hidup ini hanya sekali dan tidak akan ada kehidupan lagi. inilah keyakinan.

Bagi yang berkeyakinan hidup di dunia ini sementara dan tempat beramal, maka hidup tidak ubah seperti menikmati perjalanan untuk pulang. Meski di perjalanan itu menarik hati dan menyenangkan, tidak boleh lena, karena ada yang lebih dirindu untuk segera pulang dan sampai di tempat yang telah memberikan kenyamanan hati dan pikiran. Bertemu dengan yang begitu amat berjasa dalam keseluruhan hidup.

Tidak mudah mengawal hari agar tetap memiliki sikap yang baik. Keseluruhan kualitas kerja ditentukan oleh sikap, niat dan motivasi yang ada dalam diri. Karena itu memperbaiki bagian dalam diri ini jauh lebih penting untuk didahulukan dibenamkan dalam diri.

Ini beberpa pengingat diri agar memilii sikap hidup yang baik dalam diri:

  1. Syukuri anugerah hidup

Dalam kondisi apapun saat ini, selama ada nafas artinya kita masih hidup, diberi kesempatan menikmati dunia dengan cara yang kita sanggup.  Bagi yang tidak terhambat dengan kesehatan fisik dapat banyak amal bisa diperbuat. Peduli dengan sesame, karena hakikat kebaikan amal dan kualitas diri adalah kebermanfaatan terhadap sesama. Karena itu membangun empati dan beramal sholeh dengan ikhlas sebagai tanda syukuri nikmat hidup. tidak boleh lepas beramal baik bagi yang dirundung malang dan sakit, memahami makna sakit dan begitu besar pahala menerima sakit, bersabar dan bersemangat untuk berobat agar sembuh, serta tidak meninggalkan kewajiban ibadah adalah yang terbaik yang bisa dilakukan. Sebagai wujud syukur atas nikmat hidup saat sakit.

 

 

  1. berfikir positif

Pikiran mempengaruhi cara sikap. Pikir yang baik akan membimbing sikap dan cara berperilaku yang baik. Pengalaman kurang baik berulang yang tidak disikapi dengan baik pun akan menjadi pola buruk dalam mensikapi pengalaman yang serupa. Karena itu perlu lingkungan, atmosfir yang kondusif. Jika berkeluarga, ciptakan keluarga yang ramah anak, isteri, suami dan lingkungan luar. Tanamkan sikap-sikap positif pada anak. Anak belum banyak pengalaman, kadang mudah mengeluarkan kata yang kurang syukur tehadap pemberian terutama dari  orangtua. Padahal bisa jadi orangta melakukan untuk anak dengan susah payah. Bisa menjadi emosi yang negatif jika tidak memahami akan kekurangan dan cara memupuk perilaku positif. Berikan makna melalui pengalaman yang dapat menumbuhkan anak akan kecintaan terhadap anak-anak yang kekurangan, tidak ada ayah ibu, dan hidup dalam asuhan orang lain. Berbagi pengalaman ini anak akan memiliki cara pandang yang baru dalam mensikapi hidupnya sendiri. Banyak cara menumbuhkan sikap positif, dengan memahami apa yang didapat kini adalah yang terbaik yang Allah berikan, maka terima, sukuri dan nikmati keindahan-keindahan dari rasa syukur yang akan tumbuh di tempat yang tidak disangka.

  1. tambahkan ilmu pengetahuan

Ilmu yang mengawal kehidupan dan mengarahkan pemiliki ilmu pada jalan-jalan yang lebih baik. Untuk bisa memiliki sikap-sikap yang baik, maka menambahakan ilmu akan suatu hal yang kita hadapi akan memberikan cara pandang baru dan beda. Cinta ilmu tidak selalu di bangku kelas untuk menimbanya, dalam kehidupan banya ilmu berserak yang bisa didalami. Banyak sumber yang bisa diselami. Melalui tulisan, atau bertemu dan mendengar langsung dengan ahlinya sangat memungkinkan. Tidak ada batas waktu usia untuk mencari ilmu, selama masih hidup tidak boleh lepas dari mencari ilmu. Banyak ragam ilmu, tentu ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan yang baik adalah ilmu yang terbaik.

Kali ini cukup tiga di atas sebagai jalan mengarahkan kepada sikap yang baik dalam memupuk kualiatas diri yang baik. Itu pun  jika dilakukan akan tumbuh kembangan hal baik di dalamnya, seperti optimism dan menghargai orang lain. Tentu bukan hal mudah untuk bisa jalankan ketiga hal  itu dan juga bukan perkara sulit, jika berniat dan memiliki kekuatan diri untuk mengubah diri menjadi lebih baik bermohonlah kekuatan kepada Allah, semoga Allah beri kekuatan dan konsistensi dalam kebaikan.

 

 

Inspirasi Model-Model Evaluasi

Inspirasi Model-Model Evaluasi

Beberapa hari ini dengan waktu yang tidak memadai, saya mencoba mengidentifikasi berbagai model evaluasi. Pekerjaan ini telah sejak dahulu dilakukan, tetapi tidak banyak mengeksplorasi, sehingga saya menuliskan model dalam tulisan tugas akhirpun tidak banyak. Kali ini mendapat masukan untuk menambah jumlah model evaluasi dalam pembahasan menjadi tujuh. Pekerjaan yang menarik, untuk menambahkan model yang mana yang akan saya masukan dalam pembahasan, saya menelaah perkembangan model evaluasi yang direntang sejak awal munculnya model evaluasi hingga model yang kini. Jika bisa dilihat bahwa perkembangan model seiring dengan perkembangan pandangan ilmu pengetahuan, bermula dari pandangan behavioristik yang deterministik, secara tidak langsung juga mempengaruhi cara mengevaluasi yang bersifat objective oriented, atau behavioral approch. Model ini yang dikenal dengan evaluasi berbasis tujuan. Tujuan menjadi determinan dalam pencapaian keberhasilan suatu program atau kegiatan. Evaluasi ini yang dipelopori oleh Tyler.

Lepas dari model semula, muncul beragam model dengan pendekatan yang berbeda, terkadang keahlian seseorang yang mencetus model memberikan wana yang unik pada model yang digagasnya. Misalnya evaluasi model Connoiseurship and Critism, istilah konoseurship lekat dengan dunia seni, karena memang Einser penggagas dari evaluasi ini sangat mencintai dunia seni. Dalam evaluasi model ini, seseorang yang akan melakukan evaluasi perlu memiliki keahlian pada bidang yang akan dievaluasi inilah yang dinamakan Konosheursip dalam bidang tersebut. Namun bukan berarti seorang evaluator yang tidak memiliki keahlian dalam bidang tertentu tidak dapat melalukan evaluasi, terdapat cara yang difasilitasi dalam model ini yaitu dengan bekerja sama pada pakar yang mumpuni dalam bidang yang dievaluasi.

Perkembangan metodologi dari kuantitatif sebagai metode yang tradisional dan paling tua, bergeser pada metodologi yang terus berkembang hingga action research/ participatory bersinggungan dengan model-model evaluasi, yang masuk dalam bingkai Intuitionist-pluralist evaluationyang dikenal dengan model evaluasi dengan pendekatan naturalistic & participant-oriented. Sejumlah nama yang konsen pada bidang ini antara lain Stake, Guba dan Patton.

Butuh waktu yang panjang mengenal jelas model evaluasi yang beredar di dunia perevaluasian (seperti dunia persilatan), mengobservasi atau pun mencobakan bagaimana setiap model diaplikasikan dalam suatu program atau kegiatan.Sampai pada kesimpulan dapat menentukan beragam model evaluasi dengan akurat pada persoalan-persolan yang akan dievaluasi.

Ilmu memang tidak pernah ada habisnya, hanya umur yang bisa habis.. xixi

Dimana pun kita, Kematian itu Begitu Dekat

Manusia hanya punya rencana karena apa yang terjadi tidak selalu sama dengan apa yang direncanakan. Hari minggu pagi, Ibu setengah baya yang selepas olahraga berbelanja di pasar kecil bisa jadi telah terbayang bisa memasak untuk keluarga, namun apa yang terjadi saat berbelanja tiba-tiba sakit perut yang luar biasa sehingga terjatuh. Orang-orang di sekitarnya dengan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Tidak lama di rumah sakit dalam proses pengecekan, nyawanya melayang meninggalkan jasad. Tidak ada yang bisa dihubungi dan diketahui darimana berasal. Karena tidak ada Kartu tanda Penduduk (KTP) maupun telepon genggam. Masuklah jasad yang tidak lagi bernyawa itu ke dalam kamar mayat.

Sungguh hidup tidak pernah disangka. Ajal begitu dekat, sampai tidak mau menunggu hingga ada di tengah keluarga. Dimana pun yang Maha memiliki jiwa ini hendak mengambilnya tidak ada satu pun yang dapat menundanya.

Seribu kali keluarga, orangtua, sahabat begitu menyayangi namun belum tentu mendapati saat keadaan yang tersulit, menghadapi sakitnya ajal menjemput. Kebaikan dan kepedulian orang yang tidak dikenal dengan izin Allah memberikan bantuan. Namun kadang selagi hidup tidak mudah berinteraksi dan meberikan kebaikan kepada orang yang tidak dikenal. Orang-orang lebih banyak menaruh curiga kepada orang yang tidak dikenal. Memang disatu sisi mesti waspada, tetapi perlu juga melihat kondisi yang ada. Kecurigaan yang tidak beralasan, membuat prasangka-prasangka yang dapat mempengaruhi perilaku dan merugikan.

Hidup adalah kebaikan, karena kebaikan akan berbuah kebaikan. Kita tidak pernah mengatahui bagian mana dari kebaikan ini yang melindungi kita dari suatu keburukan. Dan tidak pula setiap kebaikan dapat memenuhi akan kebutuhan yang kita perlukan. Segalanya adalah karunia Allah, kasih sayang Allah. Seluruh kebaikan yang kita buat beum tentu mampu mengimbangi akan kasih sayang yang telah Allah beri. Kebaikan tulus karena Allah, tanda syukur atas segala nikmatnya. Tidak perlu lagi ditakuti akan apa yang terjadi. Karena Allah telah mengatur segalanya.

Namun demikian sebagai usaha memudahkan indentifikasi saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saat berpergian sendiri khusunya maka perlu beberapa hal yang dipersiapkan meskipun kita berangkat ke tempat yang dekat sekalipun yaitu: 1) izin atau memberi tahu kemana akan pergi dengan orang yang di rumah, artinya jika kita pergi hendak kemana ada yang mengetahuinya. 2) jika memungkinkan membawa dompet pastikan ada KTP, 3) jika memungkinkan membawa handphone, jangan lupa nama di nomor kontak handphone yang jelas, kalau orangtua, suami atau istri disertakan keterangannya. 4) baca doa sebelum pergi mohon perlindungan kepada Allah, berserah diri kepada Allah, apa pun yang terjadi saat diperjalanan atau dalam berpergian semoga Allah memberikan yang terbaik.

Kadang dalam kondisi tertentu tips di atas tidak semua berlaku. Tidak ada orang yang di rumah, tidak perlu bawa KTP atau handphone. Tetapi nomor empat itu yang sangat mungkin. Kept doa.

 

 

70 Tahun Merdeka

 

Semarak menyambut 70 tahun Indonesia merdeka terlihat dari berbagai atribut yang di pasang di rumah pribadi maupun tempat umum seperti gedung perkantoran dan instansi pemerintah. Di bawah bacaan 70 tahun Merdeka tertulis juga anjuran ‘Ayo Kerja’. Selintas berpikir sudah 70 tahun sarannya ayo kerja, emangnya dulu apa yang dikerjakan? Ada apa dengan bangsa yang sudah 70 tahun merdeka ini? bagaimana penduduknya? Pemerintahannya? Tingkat dan kualitas pendidikannya? Ekonominya? Infrastrukturnya? Banyak lagi yang menjadi tanya-tanya.

Pada masa penjajahan fisik semua menyadari dan memiliki satu tujuan bersama mengusir penjajah dengan segenap kekuatan, senjata seadanya dengan tombak, panah dan senjata lain yang kalah moderen dengan penjajah. Tetapi meski demikian semangat dan tujuan yang sama menjadi kekuatan untuk meraihnya. Saya kira juga tidak lapas dari doa para pejuang, mereka orang-orang yang sholih. Pembukaan undang-undang menegaskan dengan kalimat, “Berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa” artinya sadar betul bahwa sesungguhnya segala kondisi yang terjadi hingga Indonesia merdeka bukan secara kebetulan tetapi sudah menjadi ketentuan yang diberikan kepada bangsa ini.

Setelah kemerdekaan diraih, upaya mengisi kemerdekaan menjadi cerita yang berbeda. Dulu sesama pejuang berpikir keras untuk mengusir lawan atau penjajah. Setelah merdeka pun sama berpikir keras untuk menyingkirkan lawan. Merdeka tidak merdeka pikirannya sama. Hasilnya tidak jauh beda. Banyak kepentingan yang saling tarik menarik sehingga tidak tentu arah dan bahkan kehilangan arah. Ibarat sebuah bahtera begitu banyak nahkoda, semuanya ingin sampai kepada tujuan, tujuan yang banyak dengan satu kendaraan, mestinya bisa dikompromikan, tetapi sayang kadang sulit diatur dan mengatur, yang akhirnya berjalan masing-masing. Pastinya tidak pernah melesat dan dapat melaju dengan jauh.

Persaingan dengan bangsa-bangsa lain tidak dapat dihentikan. Kesepakatan-kesepakatan untuk menciptakan wilayah tanpa batas, bebas untuk melakukan ekspansi pendidikan dan ekonomi dari negara-negara lain yang masuk sudah sangat terasa. Rumah yang rapuh tidak cukup kuat untuk menahan hempasan badai. Pantas jika anjuran digaungkan kini yaitu untuk “Ayo Kerja”, perbaiki semuanya agar makin kuat dan kokoh.

Memperhatikan lingkugan di sekitar rumah pun kita sudah disuguhkan beragam persoalan. Hidup disuasana kampung tetapi tidak mudah mendapati semangat kampung seperti bergotong royong, memperhatikan kebersihan lingkungan, menghiasi lahan pekarangan dan samping rumah dengan tanaman yang dibutuhkan sendiri dan menjaga keamanan lingkungan. Meski pun ada yang melakukannya tetapi gerakan itu bukan dari gerakan kesadaran kolektif.

Melihat pendidikan anak-anak pun tidak membuat kita merasa puas dengan apa yang telah mereka pelajari di sekolah. Mereka kehilangan adab, pantas jika tidak beradab dan kadang biadab, sesama teman saling melukai, lihat saja tawuran pelajar yang tidak pernah selesai dan dapat diselesaikan oleh siswa itu sendiri. Selalu ada pemicu mereka untuk berkelahi. Apa yang mereka perbincangkan saat berkumpul dalam kelompok, sangat jauh dari pelajaran sekolah. apa yang terjadi di rumah, tidak ada arahan dan teladan. Orangtua mereka pandai dan cerdas tetapi mereka mencurahkan perhatiannya untuk pekerjaan kantor. Uang dianggap cukup untuk menggantikan ongkos pendidikan anak. Sekalipun ada orangtua di rumah tetapi tidak punya program untuk memetakan kegiatan di rumah, karena keterbatasan dengan alasan domestik, pekerjaan rumah yang melelahkan.

Anak-anak adalah harta bagi orangtuanya, bukan saja menjadi aset bangsa di dunia, tetapi juga di akhirat. Jika anak tidak didik menjadi orang yang baik, orang yang sholih, tidak akan sampai doa-doa anak sholih itu kepada orangtuanya yang telah meninggal lebih dahulu. Orang yang sholih bukan sekedar menggunakan baju koko dan sarung, anak sholih adalah anak yang berkembang segala potensi positifnya dengan tetap bertaqwa kepada Allah. Perjuangan yang tidak mudah untuk bisa sampai mencapai itu. Pribadi-pribadi yang kokoh dan kuat akan menegakan pilar-pilar bangsa di masa mendatang.

Ayo Kerja dan ayo terus bekerja adalah anjuran yang tidak pernah berhenti selama ada kehidupan.