15 Eating Habits That Make You Live Longer

Sebenarnya bagi kita sdh sangat jelas bagaimana yg Rasul tunjukkn kpd kita. Apa yg dimakan, cara makan, dst.. this articles remain .me. thanks

TIME

For more than a decade, I’ve been working with a team of experts to study hot spots of longevity—regions we call Blue Zones, where many people live to 100 and beyond. They are the Greek island of Ikaria; the highlands of Sardinia; the Nicoya Peninsula in Costa Rica; Okinawa, Japan; and Loma Linda, Calif., home of the highest concentration of Seventh-day Adventists in the U.S. Remarkably, we’ve learned that folks in all these places share similar rituals and practices surrounding food. (Hint: They don’t count calories, take vitamins or weigh protein grams!) After analyzing more than 150 dietary studies conducted in Blue Zones over the past century, we came up with a global average of what centenarians really eat. Here are 15 age-old diet tips to borrow from the longest-living people on the planet.

Get 95% of your food from plants

Produce, whole grains and beans dominate meals all year…

View original post 1,192 more words

Percik Bacaan QS 45:21 – Konsekuensi Perbuatan

 

Inspirasiku pagi ini, Ar Rabi’ bin Khutsaim, dia Tabi’in murid Ibn Mas’ud ra. Sepanjang hidup orang yang bersamanya tidak pernah mendengar kata-kata yang kotor keluar dari mulutnya. Dia menjaga anggota tubuhnya. Menjaga pandangan, menjaga lisan, dan menjaga hati. Terlihat dari apa yang kubaca bagaimana cara Ar Rabi’ mendidik jiwa sangat patut ditiru.

Pernah suatu ketika saat Ar Rabi berada dalam masjid, ada sekelompok perempuan yang hendak ke masjid. Ar Rabi tidak sedikitpun menengok atau mengubah posisinya sedikit pun hingga perempuan-perempuan itu keluar. Memang tidak sedikit pandangan yang akhirnya membawa kepada penyesalan hidup yang berkepanjangan.

Bermula dari pandangan yang tidak terjaga, terlebih kepada lawan jenis. Pandangan yang tidak dikendalikan. Tidak salah jika bertemu pandang tanpa sengaja, itulah adalah anugrah. Namun setelah itu selesai tidak perlu diikuti segala angan dan khayal.

Setan sangat lihay, membuat perangkap agar kita mengikuti dorongan nafsu. Mengikuti pandangan kedua, mengutarakan perasaan hati, dan menunjukkan dengan perilaku. Masuk pada suasa bathin yang guncang, yang jika disadari telah jauh berjalan dalam langkah yang tersesat. Jika sudah begitu tentu tidak mudah membersihkan noda yang terus bertumpuk. Wajar jika bersusah payah menghadapi kesedihan, kegelisahan dan kehidupan yang berantakan. Namun satu sisi ada ketidak berdayaan melepas apa yang telah masuk ke dalam hati.

Tidak ada jalan untuk mengobati segala apa yang menjadi beban dalam hidup, kecuali dengan membersihakan jiwa, mendekat dan banyak beribadah hanya karena Allah. Itu pun belum tentu tuntas, kehidupan ini teramat rumit dalam pertentangan antara nafsu dan ketaatan. Jangan pernah berhenti memperkuat diri dengaan hal-hal yang positif.

Apa yang diucapkan lisan bagian dari cerminan jiwa kita sendiri. Betapa eloknya orang yang tidak pernah kita dengan mengeluh meski kita mengetahui betapa pahit hidup yang dialaminya. Tidak menjelekkan orang yang, meskipun dia teraniaya. Tidak mengeluarkan kata makian meskipun pantas dan manuasiawi jika diutarakan pada kondisi yang sedang dihadapinya. Pilihan untuk tetap berkata baik, dan memohonkan kebaikan kepada orang yang telah menzholiminya. Pekerjaan yang sangat luar biasa. Cara mendidik jiwa dengan berkata baik atau diam. Ar Rabi’ menginspirasikan ini.

Sepanjang hidup, saya merasa ada orang yang terluka dengan lisan saya, meskipun saat itu saya tidak bermaksud demikian, namun nyatanya apa yang saya ucapakan melukai hati orang. Saya tidak tahu apa yang mesti dikatakan kembali, hati telah tergores. Namun selama saya masih bisa berbuat, meminta maaf dan memberikan kebaikan dan belajar mengendalikan lisan sedikit membuat hati ini tenang. Saya kira tidak ada manusia yang suci tanpa salah dan dosa. Saya termasuk manusia itu, Beruntunglah ada Allah yang Maha Mengampuni.

Kemampuan mengendalikan diri, dengan cara mengikat hati hanya kepada Allah. Memohon ampunan setiap saat. Karena manusia hidup tidak pernah luput dalam berbuat yang tidak berkenan bagi orang lain. Manusia memang tempatnya salah dan dosa. Namun Allah sangat suka dengan orang yang selalu meminta ampunan dan mendekat kepada Allah.

Sibuk dengan memperbaiki kekuarangan diri, menjaga perasaan dan menghargai orang lain, layaknya diri ini ingin diperlakukan orang lain. Tidak ada orang yang suka jika keburukannya disebut. Allah saja menutupi aib yang ada pada orang, selama dia tidak membukanya. Tentu apa urusan kita menceritakan aib saudara sendiri.

Kesadaran itu kadang lepas ketika berkumpul dalam kelompok yang memang sedang membicarakan orang, dengan ringan dan tanpa sadar, kita sendiri terpancing untuk bercerita tentang keburukan orang lain. Sungguh memang tidak mudah untuk dapat mengendalikan diri, karena itu istighfar tiada henti. Allah maha luas ampunannya.

Tidak ada yang terlewat dalam catatan Allah, meski kita mampu menutupi segala keburukan yang ada dalam diri, sehingga tampak bagus di hadapan orang lain. Namun tidak di hadapan Allah, keburukan apapun yang kita perbuat, sangat jelas dihadapan-Nya.

Setiap yang dilakukan terdapat konsekuensi. Terus menerus dalam kejahatan dan keburukan akan menelan kehinaan. Karena memang tidak akan pernah sama antara yang selalu memohon ampunan dengan orang yang bangga dengan dosa-dosa.

Bagaimana Allah akan memberi pertolongan dan keberkahan, sementara kejahatan dan keburukan tidak pernah berhenti dikerjakan. Jangan pernah mengira sama perlakuan bagi orang yang sholeh dan salah.

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” QS. 45:21

Menerima segala konsekuensi dari perbuatan, dengan tetap bermohon ampunan. Kiranya segala apa yang menjadi beban dan akibat dari keburukan dapat berkurang. Mendekat dan terus mendekat kepada Allah dan berbuat kebaikan. Hingga masa tiba, kembali kepada-Nya. dan Allah ada dalam hati, lisan dan perbuatan kita.

Semangat pagi, meraih berkah dan menebar kebaikan.

15.04.15. # 07.11. Bogor.

Waktu Pukul 00:26 – Perlu Proporsional

14.04.15 at 00:26 di menit itu saya terbangun maksudnya hendak menulis dan memperbaiki apa yang menjadi tugas saya yang lama terbengkalai. Tetapi saya bingung hendak mulai dari mana, begitu banyak yang masih tanda tanya. Sambil mengembalikan otak yang baru saja diistirahatkan, saya menulis tulisan ini sebagai meditasi dan pemanasan.

Sesuatu yang dikerjakan dengan tidak penuh perhatian, banyak hal lain yang menyela pekerjaan, membuat apa yang menjadi target selalu terlewat. Masih tergambar jelas di dinding kamar saya, bahwa saya akan selesaikan pekerjaan ini di akhir tahun 2014. Namun nyatanya kini di tahun 2015 yang udah memasuki bulan ke 4 saya masih berkutat dengan pekerjaan tugas akhir ini.

Sungguh pun demikian saya menyadari waktu yang beralalu bukan begitu saja tanpa kesan. Banyak yang mesti saya sesuaikan dengan setiap permasalahan yang datang. Saya sangat percaya dengan apapun yang terjadi adalah yang terbaik. Saya pun mengira bahwa ini yang mesti dilalui, sebagai bagian dari tahapan perjalanan kehidupan saya.

Saya terkadang melihat bagaimana cara orang lain bekerja, dalam menyelesaikan tugas-tugas. Terkadang mereka hanya tidur beberapa jam saja. Tidur larut dan bangun lebih cepat. Tetapi saya, kadang aneh dengan diri sendiri, saya masih bisa tidur nyenyak dengan pekerjaan yang juga banyak. Tidur tetap di awal waktu dan bangun di awal waktu. Setiap kali azan isya berkumadang, rasanya mata saya sudah tidak bisa kompromi. Isi kepala saya sudah mulai ngaco. Saya kira itu waktu yang tepat untuk saya istirahat.

Setelah beberapa jam tertidur, saya masih bisa terbangun di awal waktu. Itu pun karena saya berniat sebelum tidur untuk bangun sesegera mungkin. Termasuk malam ini, saya kira ini sudah jam 2, ternyata baru beringsut dari garis tengah jam 12. Hendak melajutkan tidur, rasanya saya malu, dengan izin suami yang boleh menginap untuk mengerjakan tugas di asrama mahasiswa ini.

Pernah suatu waku saya ceritakan bagaimana saya bekerja, saya masih tetap tidur nyenyak, dan hanya merasa efektif bekerja menjelang dini hari hingga sebelum zuhur. Dengan nada santai suami saya mengatakan, “kalau begitu mengapa menginap kerja saja di rumah saja”. Dia mengira saya bekerja hingga larut, dan hanya sedikit tidur, seperti dia bekerja saat mengerjakan pekerjaan yang deadline. Dia hanya tidur beberapa jam saja.

Saya pernah mencoba demikian, hanya sedikit tidur di malam hari, saya lewati jam tidur saya, yang biasa pukul 9 maksimum sudah terbaring diperaduan, saya coba lewatkan dan teruskan terjaga hingga bener-bear lowbat, mungkin saya bisa tahan hingga jam 1, setelah itu tidur sebentar dan bangun lagi dini hari menjelang subuh. Tetapi apa yang terjadi pada siang hari, saya seperti kehilangan separuh isi kepala. Terasa kosong dan melayang. Tidur siang pun tidak mampu membayar, kepala yang pusing. Sehingga kerja tidak efektif untuk beberapa waktu.

Sejak itu, saya memilih dan memperhitungkan, antara efektifitas bekerja dan istirahat. Terlebih ada buku yang pernah saya baca, lupa judulnya, hehe.. bahwa pada saat istirahat tidur dalam lelap, tepat jam 12, itu adalah waktu yang digunakan untuk tubuh menggantikan dan memperbaiki sistem dalam tubuh yang bermanfaat bagi tubuh. Karena itu tidur terlalu cepat pun tidak baik, sehingga membuat terbangun di tengah malam. Tidur larut sama halnya, karena bisa terlewat waktu yang penting bagi tubuh. Maksudnya masih terjaga saat tiba jam 12. Nti cek lagi ya..

Meskipun saya bekerja dengan pola yang tidak sama dengan orang. Saya menerima apa yang menjadi kebiasaan saya, yang terpenting masalah pekerjaan yang menjadi tugas saya terselesikan dan saya tetap sehat. Memenuhi kebutuhan tubuh dengan proposional, memenuhi apa yang menjadi haknya, adalah bagian dar tuga hidup juga. Tentu setelah itu saya berharap banyak dapat tuntaskan segala pekerjaan.

At 00.53. Beberapa menit berlalu, saya kira sudah cukup melakukan pemanasan jari jemari mengetik di atas keypad, dan pemanasan otak untuk dapat diajak memecahkan persoalan yang masih banyak butuh fokus dan konsentrasi. Let’s go every part in my body..

Hehe.. meski akhirnya beberapa jam kemudian saya bobok lagi.. memang masih terlalu malam untuk bangun. –alasan. 02.05. stabil di 03.00. until meet the sun shine.

Bogor, asrama mahasiswa UIKA.

Percikan Bacaan QS 41:30 – Mengakui dan Konsisten

Menikmati jamuan saat dini hari, terasa basah hati. Entah apa yang ada dalam benak, kadang kata belum terucap tetapi air mata sudah jatuh. Kata sudah tidak mampu mengurai bagaimana isi hati dan apa yang ingin diungkapkan. Saat tangan menengadah, menuturkan apa yang telah dilakukan, dan apa yang dirasakan, terbayang kehidupan dan orang yang kita cintai, berharap kebahagiaan untuk semua, di atas segala jalan yang di tempuh.

Ada rasa rindu dan menghiba. Memasrahkan atas segala keunikan kehidupan, dari hari ke hari tidak lepas dari Kuasa Allah. Menikmati atas apa pun yang telah digariskan, terasa indah dan kadang tersimpan sedikit perih, namun percaya segala sedih hanya sementara, segala senang pun tidak pernah berlama-lama. Semua bagai epsiode kehidupan yang tayang dengan segala kelengkapannya menghiasi hidup.

Bukan tayangan babak kesedihan atau kebahagian yang menjadi hal penting. Namun bagaimana sikap dan mental kita dalam mengghadapi setiap sisi kehidupan. Dengan cara yang tepat dan tetap memberikan efek positif pada diri sendiri atas apa yang terjadi. Saat sedih datang sikap sabar yang lebih dikedepankan. Saat senang menyapa sifat syukur yang didahulukan.

Hiburan dan kabar gembira bagi orang yang meyakini bahwa Allah sebagai Tuhannya, dan tetap konsisten dengan pendirian ini, maka bukan saja Allah janjikan surga sebagai balasan atas keteguhan keimanan dengan mungkin tidak sedikit ujian. Namun juga para malaikat yang turun menghampiri hati dengan ungkapan tidak perlu takut atau pun sedih. Artinya memang kadang ada sisi kehidupan yang membuat kita terasa khawatir dan sedih. Namun jangan pernah itu dibiarkan, sadari bahwa itu bagian yang membuat jalan lapang menuju syurga. Dengan tetap konsisten dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah.

  1. 41:30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Saya percaya begitu banyak cerita tentang takut dan sedih yang dialami setiap kita. Bukan saja terkait dengan diri sendiri namun juga dengan orang yang kita sayangi. Saat sudah berkeluarga, bisa jadi ada rasa khawatir dengan kehidupan dan masa depan anak-anak. Saat memiliki pasangan hidup suami atau istri, ada rasa takut, khawatir jika pasangan yang kita cintai menduakan, mentigakan atau meninggal lebih dahulu. Saat sudah bekerja, ada pula ketakutan dengan diberhentikan di tempat kerja, kehilangan pekerjaan, tidak naik jabatan atau tidak punya penghasilan. Ah terlalu banyak yang ditakutkan manusia setiap sudutnya.

Selama ada dalam ketaatan, tidak melalaikan hak Allah sebagai Khalik, hak Allah untuk di-esakan dan disembah, berusaha untuk taati segala perintah dan menjauhi segala apa yang dilarang. Maka tidak perlu ada kekhawatiran dan ketakutan. Dan tidak pula perlu bersedih. Lepaskan segalanya, biarkan apapun yang telah terjadi, terima dengan besar hati.

Sejauh manusia dapat berusaha maka usaha dalam taat adalah wajib. Usaha menempuh jalan yang benar adalah keharusan. Meski berbukit, terjal dan mendaki, nikmati karena suatu saat akan sampai pada puncak kebahagiaan.

Semangat hadapi setiap langkah kehidupan dengan ketulusan hati. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah. Kept smile everything that happened to you.. Allah with you.

At 04.36 am, sampai pada waktu azan subuh. Semangat pagi untuk hadapi hari ini, nikmati setiap detik dan degup jantung sebagai kehidupan yang luar biasa. Kept spirit all…

 

Setiap Anak Unik (Kakak, every stage is wonderful)

 

Karunia terindah dalam hidup yang Allah karunikan kepadaku salah satunya adalah anak-anak yang sehat, cerdas, lucu dan unik satu sama lain. Tidak terbayangkan bagaimana jika memiliki anak belasan, tentu sangat lebih beragam tingkah laku dan karakter. Kerena memang setiap anak itu unik.

Saat memiliki anak pertama pun, saya masih ingat bagaimana kelucuan dan rasa ingin tahu yang ditunjukkan anak itu. Pernah satu waktu Ia meminta handphone untuk melihat-lihat isinya. Namun setelah dikembalikan telah berubah setting, bahasa yang digunakan berganti menjadi bahasa Tagalog. Huruf yang tidak akrab dimata saya,bagaimana cara mengembalikannya, tentu saya tidak dapat selesaikan. Trial and error. Sungguh tidak jelas. Namun tidak dengan anak itu, dia mengambilnya dan mengembalikannya ke bahasa semula. Ternyata bukan bahasa yang dia fahami namun jejak langkah yang telah dilakukannya yang dia ikuti.

Anak-anak dengan mudah menyerap, dan mengikuti bahasa yang diucapkan orang dewasa tanpa tahu maknanya. Orangtua biasanya kaget dengan bahasa yang diucapkan, bukan anak yang salah, tetapi dimana kita biarkan anak itu berlama-lama sehingga menyerap bahasa yang aneh itulah masalahnya, maka itu menjadi kesalahan orangtua. Mestinya memang orangtua mendampingi dan memastikan anak ada di lingkungan yang aman, baik secara fisik maupun mental.

Kali kedua, anak itu meminjam hp kembali, setelah Ia mengembalikan beberapa saat kemudian saya kira tidak ada yang bermasalah. Namun saya dibuatnya bingung, hendak mengontak salah satu kawan, mencari nama di buku telp, ternyata beberapa nama sudah berganti. Dia melakukan rename dengan istilah yang akrab dengan dunia anak-anak. Beberapa nama yang memenuhi handphone saya kala itu ada nama Casper, Mieki Mouse, Mc Donald, Paterpan, Popaye, dan beberapa nama tokoh di film kartun. Saya tidak hafal, siapa nama sebenarnya yang diganti nama oleh anak ini, Satu persatu baru diketahui setelah nama orang yang diganti mengontak saya. Kala itu saya masih ingat usia dia baru 3 tahunan.

Usianya kini sudah masuk 12 tahun, dia mengaku sudah remaja. Dan menyadari kewajiban yang mesti dijalankannya. Karena itu dia kadang agak kesal, kalau saat azan saya tidak mengira dia ada di mesjid. Dia mengatakan, “Kalau azan berkumandang, jangan cari aku kemana-mana, aku di mesjid lah.” Padahal saya mencari karena memangg mau bareng ke mesjid. Ternyata dia sudah lebih dahulu sampai. Meskipun kadang kalau subuh dia kalah cepat.

Kepenasaran dia akan alam semesta, serta kemungkinan kehidupan di planet lain, kadang membuat khayalan makin seru. Harapannya dapat menjelajah angkasa, kadang juga bertimpa dengan keinginan kuatnya pada matematika. Sementara saya berupaya memberikan landasan awal pemahaman agama. Memberi dasar keyakinan yang kokoh, yang jika tidak ada lagi orangtua yang menasehatinya, dia mampu tetap kuat karena dia mampu membaca, memahami dan mengamalkan Quran. Beragam harapan yang saling melengkapi dan mewarnai kehidupan.

Beberapa bulan lagi, anak ini Insya Allah lulus SD, melanjutkan ke SMP dan tinggal di asrama. Berharap di sekolah yang baru apa yang menjadi harapan bersama dapat kita temukan. Bukan saja anak cerdas secara akademis, namun juga anak yang memiliki Aqidah islam yang kuat. Semangat terus, doa mama menyertai.

 

 

 

 

Redakan Konflik Jiwa

 

Persoalan hidup tidak selalu mudah dan cepat dapat diselesaikan, terlebih jika kita sendiri tidak berusaha melepaskan apa yang menjadi beban dalam hidup. memang terkadang masalahnya tidak sederhana, namun bisa dibuat lebih ringan dan mudah diselesikan, bergantung kepada kekuatan yang ada dalam jiwa. Kita memiliki kekuatan jiwa yang tumbuh dan bebas menentukan pilihan yang tidak menjadi konflik. Karena sudah menjadi fitrah jiwa yang menyukai kepada yang lurus, tidak bertentangan, dan kebenaran.

Mari kita tanya setiap masalah yang datang, lepaskan segala kepentingan dan ego pribadi. Meskipun kadang ada dalih manusiawi untuk mentolerir apa yang kita lakukan. rasanya memang tidak mudah mengembalikan jalan yang kita lewati berkelok-kelok dan memutar-mutar untuk bisa lurus, terlebih banyak hal yang turut di dalamnya, ibarat ingin meluruskan benang yang kusut, tarik sana-sini malah makin menengang dan sulit diurai.

Gunakan akal dan logika pikir. Simpan dulu emosi apalagi yang sedang meletup. Kadang kita perlu menyeimbangkan nalar dengan rasa. Jika memperturutkan rasa, kita bisa lari dan terbang ke langit ketujuh bahkan bisa menarik ubun-ubun. Tetapi adakalanya pikir perlu menyertai, agar apa yang dilakukan tidak kebablasan.

Memperturutkan segala emosi akan menuntut konsekuensi. Hal-hal yang bersifat terlalu menjadi sesuatu yang membahayakan. Terlebih jika tidak diiringi peran otak belahan kiri yang bisa berpikir runtut dan logis. Banyak yang kita ketahui untuk dapat mengelola emosi, dapat yang kita aplikasikan untuk bisa meredakan konflik dalam diri. Itulah peran akal untuk memikirkannya dan kelola emosi untuk meluruskannya.

Dalam psikoanalisis konflik itu terjadi manakala ada pertentangan antara dorongan id yang cenderung nafsu dan tuntutan super ego yang berisi norma-norma. Setiap kali kita dihadapi kenyataan ini, maka saat itulah terjadi konflik dalam diri. Antara menurutkan nafsu atau memegang teguh norma ajaran yang kita anut.

Ketidakmampuan dalam menyelesaikan konflik ini akan menjadi penyakit yang menimbun. Jika perturutkan nafsu, perlahan-lahan menjadi akumulasi ketidaknyamanan jiwa, karena melawan apa yang yang semestinya dilakukan dengan apa yang telah dilakukan.

Itu artinya, ada persoalan yang bertentangan, dan kita ada dalam pertentangan itu. Segera bangkit dan tinggalkan. Pilih menunda hingga waktu yang tepat, dengan jalan yang benar. Dan apa yang menjadi beban masa lalu diredakan dengan berbagai cara yang positif.

Meredakan konflik, dengan kekuatan dan perjuangan memilih yang lurus, kembali ke jalan yang semestinya, menuruti norma yang ada dalam diri kita, yang perlu dihindari, maka hindari. Mohonlah ampunan kepada Allah. Karena itu istigfar menjadi jalan dalam meredakan konflik dalam jiwa.

“dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. 3:135)

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia berbuat dosa itu bisa dikatakan manusiawi. Baik itu dosa terhadap diri sendiri seperti menganiaya diri, seperti dengan tidak memberikan hak akan kebutuhan diri sendiri. Menganiaya diri kerugiannya menimpa diri sendiri. Dan dosa terhadap orang lain yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain, dalam penjelasan ayat ini diberikan contoh seperti zina dan riba. Yang kerugainnya bukan saja diderita diri sendiri tetapi juga orang lain.

Dalam waktu yang panjang berada dalam konflik dan membohongi jiwa yang suci dengan terus memperturutkan nafsu, maka sesungguhnya ada yang tidak beres dengan jiwanya. Perlahan akan ada dalam kekosongan jiwa. Karena jiwa tidak tumbuh dan didekatkan kepada yang Maha Memiliki Jiwa.

Banyak keuntungan jika kita mampu mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Tidak perlu mengumbar kata kepada orang lain. jika belum sanggup atau perkara yang bersifat personal. Cukup sampaikan kepada Allah, dalam keheningan, sujud yang panjang pada malam dimana Allah menanti hambanya dalam jamuan malam di sepertiga malam. Setiap hari akan terasa hari yang baru, karena begitu dahsyatnya permohonan ampun itu. Bukan saja meredakan konflik dalam jiwa namun juga memudahkan segala urusan yang kita hadapi.

Nabi bersabda “siapa yang terbiasa beristigfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar dari kesempitannya dan kelapangan dari kesedihannya, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (H.R. Dawud).

****

Setiap kita merasakan kesempitan, beban yang berat dan kesalahan dalam hidup. tenanglah tidak perlu larut dalam kesedihan tanpa berbuat untuk menyelesaikannya. Basahi bibir dengan istigfar, penuhi sepertiga malam dengan pengakuan dan mohon ampunan. Lewati lamunan dengan sibuk membaca quran. Percayalah ini bukan janji manusia, tetapi Allah sendiri yang menyampaikan dalam Quran dan Rasul menyatakannya dalam hadis.

So, apalagi yang diberatkan manusia. Jika hati telah bergantung kepada Allah, jalan lurus telah kita tempuh. Maka tetaplah dalam kesabaran, hari demi hari akan selalu ada keindahan, dari yang tidak pernah kita duga. Tetaplah dalam syukur, akan makin banyak nikmat yang datang, dalam berbagai bentuk.

Jika ada rasa sempit, maka percayalah itu sebuah ujian, tidak ada yang dibiarkan mengaku beriman tanpa ada ujian yang datang. Tetap berdoa semoga selalu diberi kekuatan. Hingga nanti, saatnya tiba kembali kepada yang memiliki Jiwa ini.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS. Al Fajr 27-30).

Semoga siapa pun yang membaca tulisan ini, Allah beri kekuatan kepada kita untuk menjaga, merawat dan menumbuhkan jiwa yang tenang. Berharap bertemu dalam Surga-Nya. Kept spirit.

 

***

Dalam, irama derasnya hujan. Asrama. 14.50 # 07.04.15

 

 

Mencari Pesan

Entah apa yang berkecamuk dalam rasa dan fikir, serasa ada yang ingin aku ungkapkan namun aku tidak faham apa yang sebenarnya ingin kukatakan. Ada rasa begitu sedih, khawatir dan syukur atas semua yang terjadi, namun saat ku menyukuri ada rasa rindu dengan orang-orang yang aku cintai, sedih ini makin menjadi.

Ingin ku bersimpuh dalam sujud dan tumpahkan segala apa yang membuat hati terasa sempit. Tidak bisa shalat karena kodratku perempuan, meski terbangun di dini hari, tidak ada pekerjaan yang dengan hati tenang bisa kuperbuat. Membuka pesan di email, wa atau sms, membaca status di media sosial, membuka tulisan di blog keroyokan, ternyata belum mengobati perasaan yang ku alami. Sungguh ada terasa ruang yang hampa, berkabut dan sempit.

Sadar dan tanyaku terus akan apa yang ku rasa. Aku fahamkan bahwa Engkau pemilik hati yang berkuasa membolak-balikkan hati, mengetahui akan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan. Aku hanya bermohon beri ketenangan dan kekuatan dalam menghadapi persoalan yang datang.

Aku teringat pesan yang sepintas ku baca. Bahwa Allah secara kuat mengatakan “sungguh aku akan menguji atau memberi cobaan, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan”. Aku pun tidak mengetahui pasti apakah yang aku rasa ini bagian dari cobaan yang disebutkan itu.

Andai aku anak kecil yang dengan sayangnya orangtua menolak dan membiarkan apa yang aku butuhkan tidak dipenuhi. Karena orangtua mengetahui, bahwa saat ini yang terbaik adalah menunda, karena ada yang tepat dan lebih baik yang akan anak dapatkan. Andai saja anak kecil itu mengetahui apa yang ada dibalik perlakuan orangtuanya, dan anak kecil yang merasa tidak sanggup menerima dan ingin menghiba, menangis, membujuk agar berikan kenyamanan, dengan nasehat yang bisa kuat menahan dorongan yang ada dalam diri, atau penuhi meski kadang bukan pilihan yang tepat. Sungguh dapat dibayangkan untuk menenangkan dan menentukan pilihan yang bercampur perasaan yang menyamarkan logika.

Tidak banyak yang kita ketahui akan apa yang akan terjadi. Namun kita bisa mengetahui kesudahan yang baik diawali dengan proses yang penuh kehati-hatian. Jalan yang terbaik dari apapun yang ada bertahan dan tetap mengantungkan segalanya kepada yang Maha Kuasa. Memang ada rasa tidak nyaman, jika saja ini ketidaknyamanan ini menjadi penawar hati yang berdebu, meringankan langkah dan menguatkan jiwa. Berikan kekuatan dalam ketataatan menerima dan tidak menjadi sebuah kekhawatiran atas apapun yang ada.

Tentulah sifat Allah tidak sama dengan analoginya manusia, jangkauan kita hanya pendek dan terbatas. Kita tidak mengerti apa yang hendak dipersiapkan bagi kita. Diujung pesan lewat QS 2:155, bahwa Allah tidak biarkan hambanya bersedih, kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Artinya berita baik akan didapat jika saja hendak bersabar.

Tangis ini mereda, dan aku ikhlaskan apapun yang hendak terjadi, aku percaya Engkau dan Engkau memberikan yang terbaik bagi hamba-hambanya. Tetapkanlah hati ini dalam kesabaran.

_______________________________

03.30. # 07.04.15

Tenang, semangat. 2:155. hanya sedikit ketidaknyamanan dari banyak kenikmatan yang kita rasakan.

 

 

Titip shalat untuk Anakku

 

Anakku …

Suatu saat engkau akan mengerti apa yang dilakukan untukmu

Ayahmu memang tidak secerewet ibumu

Tidak banyak kata dari ayah, namun ayah tegas

Tidak banyak titah dari ayah, namun dia biarkan kamu lihat apa yang dilakukannya.

 

Anakku..

Saat menjelang tidur, hanya ada doa dan harapan

Semoga esok terbangun dan kehidupan yang lebih baik

Mengantungkan diri hanya kepada-Nya

Bermohon kekuatan agar bisa bersama

Berjalan menelusuri remang menyambut fajar pagi

Bersujud di rumah-Mu dalam keheningan

 

Jika pagi buta, saat sunyi, dan dalam tidur lelapmu

Ada rasa tidak ingin usik tidurmu

Biarkan hingga tubuhmu sendiri yang membangunkannya

Namun kadang kau tidak sempat nikmati suara azan subuh

Panggilan yang mengajak kita untuk berbahagia

 

Anakku..

Saat membangunkanmu usap, pijit, kata dan doa

mengiringimu bangkitnya jiwa dan ragamu

Bukankah kau pun tahu bahwa ikatan musuh ini begitu kuat

Agar kita terus terlelap dan melewatkan persaksian dua malaikat

Ucapan dan keyakinan bahwa Allah yang memiliki segala puji

Telah membangunkan dan menidurkan kita begitu lelap

Hanya kepada Allah sebenarnya kita kembali

Bermohon kepada Allah agar diberi kekuatan

untuk dapat memenuhi kewajiban

 

anakku…

saat kau membasuh wajah, tangan, kepala dan kaki

untuk membersihkan dari debu lahir dan bathin

ikatan yang membelenggu dalam diri satu persatu mulai melepas

dengan sedikit langkah yang belum tegap

kau belajar untuk bisa terbiasa bangun

dan shalat di mesjid kala subuh

telah terlepas segala ikatan belenggu dalam diri

hingga siang nanti

 

anakku…

semoga kau mengerti bahwa kewajiban adalah harus dikerjakan

tidak ada penganti dan penawar sesuatu yang mesti kita lakukan

meski tubuh dalam keadaan sakit parah pun

kewajiban tidak pernah boleh terlewatkan

engkau boleh tidak berangkat sekolah

namun bukan berarti engkau boleh tinggalkan kewajiban shalat

Meski melalui berbaring dan isyarat Allah meminta kita curhat.

Katakan apa yang menjadi harapan dalam dirimu

Puji Dia dengan tulis dan kasih, meski Dia tidak pernah membutuhkan pujian kita

Puji dia karena telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita

 

Anakku..

Engkau saksikan berapa banyak yang bersama kita

Ruku dan sujud di tempat itu

Melantunkan zikir dan doa bersama

Tidak banyak

Jari jemarimu yang mungil tidak habis untuk menghitungnya

Berapa banyak orang yang bertahan

Mereka silih berganti

Karena memang ini berat, namun mudah untuk dilakukan

Dengan kemauan dan pertolongan Allah

Jangan berhenti, tetaplah lakukan dimanapun kelak kamu berada

Subuh berjamaah di mesjid untuk kebahagiaanmu

 

Anakku…

Mungkin ibumu dianggap tega, memaksa anak kecil untuk shalat

Kelak kau mengerti, bukan ibu yang meminta dan memaksa

Ibu hanya membantu dan memudahkan agar engkau dapat penuhi kewajiban

Belum wajib memang bagimu yang belum baligh

Namun belajar sebelum waktunya tiba memudahkan dan meringankanmu

 

Anakku…

Kita belajar bersama untuk tetap penuhi kewajiban ini

Sampai akhir hayat kita

Ingatkan bersama, saat panggilan tiba

Kita belajar mendahulukan panggilan kebahagiaan itu

bersama, mengajak kepada kebahagiaan

 

“Ya Tuhanku jadikanlah aku dan keturunanku

orang yang tetap melaksanakan shalat” (QS. Ibrahim:40)

inilah doa kita, doa yang kelak kau sadari dan perlu ucapkan

saat tiba waktunya masa dewasa dengan keturunan yang baru.

 

ucapkanlah doa yang Allah ajarkan dan tuliskan dalam Quran untuk kami Ayah Ibumu

“Ya Tuhanku ampunilah aku dan Ibu Bapakku dan semua orang yang beriman” (QS. Ibarahim:41)

Doa yang menjadi hadiah terindah bagi ibu dan ayahmu

Tidak pernah tergantikan dengan kemewahan harta benda di dunia

 

Doa kami yang semoga tidak pernah putus, selama nafas ini berhembus

“Tuhanku karuniakan kepadaku anak-anak yang sholeh” (QS. Ash-Saaffaat:100)

“Tuhan karunikanlah kepada kami pasangan

dan keturunan kami yang menyejukkan hati

dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Alfurqon:74)

 

Anakku titip shalat sepanjang hidupmu

Kelak saat kita tidak bersama

ada yang tidak pernah putus di antara kita

Doa mu, doa anak yang sholeh

Menjadi penerang jalan Ayah Ibumu

Dan kebahagiaan kita bersama

Dikehidupan nan abadi

———————————————————————–

# Semangat, dan tetap beramal sholeh

Saat absen tidak bisa baregan.

 

Asrama, 040415

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HATI

 

Wahai yang membolak-balikkan hati

Tetapkan hati ini dalam agama-Mu

Tetapkan hati ini dalam taat kepada-Mu

 

Kejernihan hati, tidak mudah didapat dalam diri penuh debu dan tipu-tipu.

Banyak kepentingan, entah demi kepentingan siapa, sudah tidak lagi peduli

Umbar kata sana-sini, agar orang percaya dan benarkan.

Untuk penuhi kepentingan diri, sedikit demi sedikit obral janji.

 

Lama waktu membuat karat hati

Debu melekat dan terus menutupi perlahan dan pasti

Hati menjadi mati. Na’udzubillah.

 

Tidak ada lagi malu, karena dianggap biasa

Tidak ada lagi mana benar, dan mana salah

Semuanya boleh dan dilakukan untuk kepentingan diri

dan entah kepentingan siapa lagi.

 

Tidak ingat jika semua ada batas waktu

Mana peduli karena tidak tahu dimana batas itu

Entah dekat apakah jauh

Siapa yang peduli.

 

Saat tidak ada lagi yang mampu menahan

Nafas terakhir tertahan bersiap tinggalkan

Jiwa kembali terbang melayang

Tinggalkan jasad terbujur kaku

 

Tidak ada lagi pembelaan dan yang membela

Tidak ada lagi kawan setia

Tidak ada lagi pertolongan

Tidak ada lagi yang bisa diandalkan

Hanya diri dengan sisa keangkuhan

Berpulang dengan gundah dan resah

Karena hati tidak lagi diasah

Nau’dzubillah

 

Mengharap hati yang jernih, tulus dan ikhlas karena Allah

Bukan karena kepentingan dan jabatan

Hati yang memancarkan ketenangan

Bukan huru hara dan keonaran

Bukan dengan harap namun dengan mawas diri

 

Diri mengira telah mensucikan hati

Meluruskan niat

Padahal masuk dalam perangkap ujub

Hati yang busuk dan berpenyakit

Na’udzubillah

 

Wahai yang membolak-balikkan hati

Jangan biarkan hati tertutup debu

Beri kekuatan dalam hati yang Kau diridhoi

 

 

19:26. 030415. Di sudut hati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rindu dalam tenang

Tidak ada nikmat yang lebih besar kecuali ada dalam ketetangan. Tenang meski badai menghantam, tetap tenang meski begitu pahit untuk ditelan, tetap tenang meski terasa sakit untuk dirasa. Tenang saat menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan, sama pentingnya bersikap tenang saat suka cita dan bahagia.

Ketenangan saat bahagia, melimpahnya segala karunia yang tidak terkira, tetap tidak membuat lupa diri, hilang arah dan mengumbar segala yang ada. Tenang tidak menuntut sesuatu yang bukan hak, tenang tidak melepaskan segala kewajiban. Tenang ada pada garis sewajarnya. Karena sesungguhnya diri ini tidak pernah ada daya dan kekuatan kecuali atas kekuatan yang Maha Kasih dan Sayang.

Tidak mudah mendapat ketenangan dalam hidup. Mempertahankan ketenangan sepajang waktu. Tidak sedikit godaan yang mengganggu ketenangan. Pikiran yang tiba-tiba terjebak dalam kaku. Hati yang tiba-tiba menjadi liar dan gelisah. Saat pagi tenang, belum tentu mendapati sore dengan damai.

Meskipun demikian tidak sulit untuk tetap mampu bersikap tenang, berada dalam kekuatan yang tetap memberikan senyum walau kenyataan begitu pahit. Tenang ada dalam jiwa yang tetap mengikat diri kepada Dzat yang Maha Sempurna. Tenang ada dalam keyakinan yang tidak tergoyahkan. Mengakui lemahnya diri dan tidak ada pertolongan untuk mengatasi segalanya kecuali atas kehendak-Nya.

“Allah telah memberikan ketenangan pada hati orang yang beriman.” Kunci dari ketetangan hati adalah keimanan. Tentu tidak mudah memberikan gambaran detail dan menunjukkan sikap keimanan dalam kehidupan keseharian. Perjalanan panjang melatih diri dalam ketaatan yang panjang, mengikuti apa yang semestinya dilakukan, dan mengembalikan segala urusan kepada yang Maha Mengurus. Karena percaya tidak ada kekuatan lain hanya dengan kekuatan-Nya.

Dalam keyakinan pada-Mu, tidak ada sedikitpun ajaran yang bertentangan dengan hati, segalanya terasa indah jika dapat dipenuhi. Namun terkadang tidak sedikit riak yang ingin lepaskan nafsu membumbung tinggi tanpa kendali. Mendekat pada yang Maha memberi Kekuatan, menguntungkan. Atau biarkan mengikuti nafsu mengkerdilkan jiwa. Pilihan hidup yang mungkin.

“ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Ini fomula super bagi orang yang ada dalam kegalauan. Kata yang bukan dengan sebatas lisan untuk memaknai kata ‘mengingat’. Namun segenap hati dan pikiran yang terwujudkan dalam perilaku untuk bisa mencapai tenang dengan mengingat Allah. Memang patut untuk diingat. Dzat yang Maha, dengan 99 sifat yang melekat.

Jangan ingat sesuatu yang membuat tidak tenang. Ingat hutang, pasti pusing. Ingat belahan jiwa berbagi hati, tentu sedih. Ingat-ingatan lain yang menyesakkan dada dan melemahkan pikir tidak ada enaknya. Meski hal itu tidak mudah dilupakan, karena apa yang telah melekat dan menjadi pengalaman dan bagian dalam hidup. Namun menghabiskan energi untuk mencoba lupakan. Justru menjadi makin ingat dan makin tidak mengenakkan.

Membuat sudut pandang baru atas pengalaman tidak mengenakkan jauh lebih penting, dari pada mengabadikan ketidaknyamanan masa lalu. Kebaikan selalu berbuah kebaikan. Tidakkah kita ingin segalanya membaik. Memiliki kehidupan yang baik, keluarga yang baik, sahabat dan kawan yang baik. Tetap bersikap baik dengan kekuatan doa, berharap kepada yang memiliki hati, untuk menetapkan hati dalam ketenangan. Yakin segalanya memiliki jiwa, dan segalanya ada dalam genggaman-Nya. Kembalikan segalanya pada yang Maha Memiliki, dalam tangis diujung malam, memecah langit, dan menggetarkan kebisuan alam. Tiada henti, sampai tiba waktu perjumpaan menatap dalam tangis haru, malu dan rindu. Ya Rabb..

 

*coretan pagi bisu. 26 Maret 2015. 05.45