Dimana pun kita, Kematian itu Begitu Dekat

Manusia hanya punya rencana karena apa yang terjadi tidak selalu sama dengan apa yang direncanakan. Hari minggu pagi, Ibu setengah baya yang selepas olahraga berbelanja di pasar kecil bisa jadi telah terbayang bisa memasak untuk keluarga, namun apa yang terjadi saat berbelanja tiba-tiba sakit perut yang luar biasa sehingga terjatuh. Orang-orang di sekitarnya dengan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Tidak lama di rumah sakit dalam proses pengecekan, nyawanya melayang meninggalkan jasad. Tidak ada yang bisa dihubungi dan diketahui darimana berasal. Karena tidak ada Kartu tanda Penduduk (KTP) maupun telepon genggam. Masuklah jasad yang tidak lagi bernyawa itu ke dalam kamar mayat.

Sungguh hidup tidak pernah disangka. Ajal begitu dekat, sampai tidak mau menunggu hingga ada di tengah keluarga. Dimana pun yang Maha memiliki jiwa ini hendak mengambilnya tidak ada satu pun yang dapat menundanya.

Seribu kali keluarga, orangtua, sahabat begitu menyayangi namun belum tentu mendapati saat keadaan yang tersulit, menghadapi sakitnya ajal menjemput. Kebaikan dan kepedulian orang yang tidak dikenal dengan izin Allah memberikan bantuan. Namun kadang selagi hidup tidak mudah berinteraksi dan meberikan kebaikan kepada orang yang tidak dikenal. Orang-orang lebih banyak menaruh curiga kepada orang yang tidak dikenal. Memang disatu sisi mesti waspada, tetapi perlu juga melihat kondisi yang ada. Kecurigaan yang tidak beralasan, membuat prasangka-prasangka yang dapat mempengaruhi perilaku dan merugikan.

Hidup adalah kebaikan, karena kebaikan akan berbuah kebaikan. Kita tidak pernah mengatahui bagian mana dari kebaikan ini yang melindungi kita dari suatu keburukan. Dan tidak pula setiap kebaikan dapat memenuhi akan kebutuhan yang kita perlukan. Segalanya adalah karunia Allah, kasih sayang Allah. Seluruh kebaikan yang kita buat beum tentu mampu mengimbangi akan kasih sayang yang telah Allah beri. Kebaikan tulus karena Allah, tanda syukur atas segala nikmatnya. Tidak perlu lagi ditakuti akan apa yang terjadi. Karena Allah telah mengatur segalanya.

Namun demikian sebagai usaha memudahkan indentifikasi saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saat berpergian sendiri khusunya maka perlu beberapa hal yang dipersiapkan meskipun kita berangkat ke tempat yang dekat sekalipun yaitu: 1) izin atau memberi tahu kemana akan pergi dengan orang yang di rumah, artinya jika kita pergi hendak kemana ada yang mengetahuinya. 2) jika memungkinkan membawa dompet pastikan ada KTP, 3) jika memungkinkan membawa handphone, jangan lupa nama di nomor kontak handphone yang jelas, kalau orangtua, suami atau istri disertakan keterangannya. 4) baca doa sebelum pergi mohon perlindungan kepada Allah, berserah diri kepada Allah, apa pun yang terjadi saat diperjalanan atau dalam berpergian semoga Allah memberikan yang terbaik.

Kadang dalam kondisi tertentu tips di atas tidak semua berlaku. Tidak ada orang yang di rumah, tidak perlu bawa KTP atau handphone. Tetapi nomor empat itu yang sangat mungkin. Kept doa.

 

 

Advertisements

70 Tahun Merdeka

 

Semarak menyambut 70 tahun Indonesia merdeka terlihat dari berbagai atribut yang di pasang di rumah pribadi maupun tempat umum seperti gedung perkantoran dan instansi pemerintah. Di bawah bacaan 70 tahun Merdeka tertulis juga anjuran ‘Ayo Kerja’. Selintas berpikir sudah 70 tahun sarannya ayo kerja, emangnya dulu apa yang dikerjakan? Ada apa dengan bangsa yang sudah 70 tahun merdeka ini? bagaimana penduduknya? Pemerintahannya? Tingkat dan kualitas pendidikannya? Ekonominya? Infrastrukturnya? Banyak lagi yang menjadi tanya-tanya.

Pada masa penjajahan fisik semua menyadari dan memiliki satu tujuan bersama mengusir penjajah dengan segenap kekuatan, senjata seadanya dengan tombak, panah dan senjata lain yang kalah moderen dengan penjajah. Tetapi meski demikian semangat dan tujuan yang sama menjadi kekuatan untuk meraihnya. Saya kira juga tidak lapas dari doa para pejuang, mereka orang-orang yang sholih. Pembukaan undang-undang menegaskan dengan kalimat, “Berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa” artinya sadar betul bahwa sesungguhnya segala kondisi yang terjadi hingga Indonesia merdeka bukan secara kebetulan tetapi sudah menjadi ketentuan yang diberikan kepada bangsa ini.

Setelah kemerdekaan diraih, upaya mengisi kemerdekaan menjadi cerita yang berbeda. Dulu sesama pejuang berpikir keras untuk mengusir lawan atau penjajah. Setelah merdeka pun sama berpikir keras untuk menyingkirkan lawan. Merdeka tidak merdeka pikirannya sama. Hasilnya tidak jauh beda. Banyak kepentingan yang saling tarik menarik sehingga tidak tentu arah dan bahkan kehilangan arah. Ibarat sebuah bahtera begitu banyak nahkoda, semuanya ingin sampai kepada tujuan, tujuan yang banyak dengan satu kendaraan, mestinya bisa dikompromikan, tetapi sayang kadang sulit diatur dan mengatur, yang akhirnya berjalan masing-masing. Pastinya tidak pernah melesat dan dapat melaju dengan jauh.

Persaingan dengan bangsa-bangsa lain tidak dapat dihentikan. Kesepakatan-kesepakatan untuk menciptakan wilayah tanpa batas, bebas untuk melakukan ekspansi pendidikan dan ekonomi dari negara-negara lain yang masuk sudah sangat terasa. Rumah yang rapuh tidak cukup kuat untuk menahan hempasan badai. Pantas jika anjuran digaungkan kini yaitu untuk “Ayo Kerja”, perbaiki semuanya agar makin kuat dan kokoh.

Memperhatikan lingkugan di sekitar rumah pun kita sudah disuguhkan beragam persoalan. Hidup disuasana kampung tetapi tidak mudah mendapati semangat kampung seperti bergotong royong, memperhatikan kebersihan lingkungan, menghiasi lahan pekarangan dan samping rumah dengan tanaman yang dibutuhkan sendiri dan menjaga keamanan lingkungan. Meski pun ada yang melakukannya tetapi gerakan itu bukan dari gerakan kesadaran kolektif.

Melihat pendidikan anak-anak pun tidak membuat kita merasa puas dengan apa yang telah mereka pelajari di sekolah. Mereka kehilangan adab, pantas jika tidak beradab dan kadang biadab, sesama teman saling melukai, lihat saja tawuran pelajar yang tidak pernah selesai dan dapat diselesaikan oleh siswa itu sendiri. Selalu ada pemicu mereka untuk berkelahi. Apa yang mereka perbincangkan saat berkumpul dalam kelompok, sangat jauh dari pelajaran sekolah. apa yang terjadi di rumah, tidak ada arahan dan teladan. Orangtua mereka pandai dan cerdas tetapi mereka mencurahkan perhatiannya untuk pekerjaan kantor. Uang dianggap cukup untuk menggantikan ongkos pendidikan anak. Sekalipun ada orangtua di rumah tetapi tidak punya program untuk memetakan kegiatan di rumah, karena keterbatasan dengan alasan domestik, pekerjaan rumah yang melelahkan.

Anak-anak adalah harta bagi orangtuanya, bukan saja menjadi aset bangsa di dunia, tetapi juga di akhirat. Jika anak tidak didik menjadi orang yang baik, orang yang sholih, tidak akan sampai doa-doa anak sholih itu kepada orangtuanya yang telah meninggal lebih dahulu. Orang yang sholih bukan sekedar menggunakan baju koko dan sarung, anak sholih adalah anak yang berkembang segala potensi positifnya dengan tetap bertaqwa kepada Allah. Perjuangan yang tidak mudah untuk bisa sampai mencapai itu. Pribadi-pribadi yang kokoh dan kuat akan menegakan pilar-pilar bangsa di masa mendatang.

Ayo Kerja dan ayo terus bekerja adalah anjuran yang tidak pernah berhenti selama ada kehidupan.

 

 

 

 

Hanya ada Syukur atas segalanya

 

Bayangkan seandaiya dalam kehidupan terburuk hidup ini berakhir. Rasanya siapapun tidak ingin dan tidak akan melakukan hal buruk dalam hidup jika mengingat akan berakhirnya kehidupan saat itu. Tetapi hidup penuh dinamika, kita tidak pernah tahu akan apa yang terjadi ke depan. Selain syukur dan doa memohon perlindungan-Nya.

Selepas berjama’ah subuh di masjid seorang ibu muda menghampiri, dia meminta doakan hendak operasi pengangkatan myoum dan rahim dalam dua hari ke depan ini. saya teringat cerita seorang ibu yang juga mengalami hal sama. Betapa berat kenyataan, namun demikian hidup harus selalu disyukuri.

Terkadang musibah atau berkah menjadi jalan untuk muhasabah diri, mengkoreksi diri sendiri dan memperbaiki diri. Kita tidak pernah mengetahui masa lalu orang lain, dan memang tidak mesti mengetahuinya. Saat kini dan hanya sebagian kini dari orang yang kita kenal yang kita mengetahui, jika ada cerita masa lalu, tidak pernah bisa kita memastikan masa lalu seseorang berhubungan dengan kehidupan kini. Cukup urusan Allah yang mengetahui perilaku-perilaku hambanya.

Tidak ada yang disia-siakan atas kebaikan apapun yang kita lakukan, seandainya bersabar dan menerima atas semua ketetapanNya rasanya tidak ada yang perlu diberatkan. Tentu bukan hal mudah bagi orang yang mengalami suatu musibah untuk bisa bersabar. Karena ada bagian yang teramat berharga dan mulia di balik sebuah kesabaran.

Kita tidak akan mampu mencapainya tanpa pertolongan Allah. Hanya karena karunia Allah segalanya menjadi ringan. Saya sangat percaya, saat mendekat selangkah demi selangkah semakin hati bertambah tenang dan terasa ringan semua beban. Tidak ada harapan kecuali kebaikan atas diri sendiri, orang terdekat dan semua orang.

Jika seseorang mengalami suatu penyakit, sesungguhnya Allah sedang sayang kepadaNya. Pahala besar telah disediakannya. Dosa-dosa yang telah lalu telah digugurkannya. Beruntunglah orang sakit dan mendapat musibah. Sejauh bisa sabar telah tersedia bagian pahala. Allah dan dirinya menjadi dekat, setiap kali saat terasa sakit kepada siapa meminta pertolongan dan memohon diringankan rasa sakit, kecuali kepada Allah. Dokter dan obat-obatan hanya menjadi jalan kesembuhan, hakikatnya Allah yang menyembuhkan.

Teiring doa semoga Allah berikan yang terbaik, kesabaran dan kesembuhan kepada sahabat yang sedang disayangi Allah.

Memperkuat rasa syukur akan menambahkan kenikmatan atas apa yang ada.

Menulis bener, Beneran sulit

 

Biarpun sekolah sudah sampai mau habis diujung tingkat, tetapi pekerjaan menulis adalah bukan hal mudah. Apalagi menulis beneran, maksudnya menulis yang dapat difahami orang lain, logis dan sistematis, dan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau menulis asal bunyi, dan sesuka hati tentu tidak sulit. Saya biasa melakukannya, mungkin karena biasa inilah, akhirnya saat menulis beneran, komentar pertama adalah tulisan saya adalah tulisan yang menggunakan bahasa lisan. Kedua struktur kalimat berantakan, ketiga, yang membuat saya senang, tidak semua tulisanya begitu masih ada yang bagusnya. (sepertinya ketiga itu energi untuk memperbaiki)

Sekolah dan belajar bertahun-tahun sejak SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dan kuliah S1 4 tahun. Paling tidak 16 tahun belajar, mestinya cukup untuk modal menulis. Dan memiliki kemampuan baik dalam menulis. Namun ternyata tidak semudah itu. Meskipun telah menyelesaikan pendidikan di tingkat tinggi bukan jaminan untuk tidak gagap menulis, piawai dalam menyapaikan ide dan menjadikan bacaan yang mudah difahami orang.

Selama belajar di sekolah formal, apalagi saat mahasiswa, pekerjaan membuat tulisan berupa artikel atau makalah sudah biasa. Tetapi tugas itu dianggap hal yang biasa. Tidak diperhatikan seperti apa dan bagaimana penulisan yang baik. Tidak jarang tugas itu dipenuhi dengan cara yang tidak semestinya seperti mencopy pekerjaan orang lain, atau menulis dengan alakadarnya. Dosen yang memberi tugas pun tidak menyadari itu, yang diperhatikan adalah konten pemaparan saat diskusi. Alhasil tulisan yang dibuatnya tidak diketahui baik atau buruknya.

Saat menulis tugas akhir seperti skripsi, tesis atau disertasi barulah terlihat. Itu pun jika dosen pembimbing adalah orang yang sangat memperhatikan tulisan. Saat itulah belajar dan mendapat pengalaman bagaimana menulis dengan benar. Mestinya beruntung mahasiswa yang mengalami hal ini (termasuk saya.. hiiks). Dengan begitu dapat mengetahui seberapa baik kemampuan menulisnya.

Saya mengalami dinamika menulis, kadang dipuji dan kadang dimaki. Saya sendiri tidak faham, rasanya buat saya sama saja, menulis dengan biasanya dan apa adanya. Tetapi setelah penilaian itu datang, saya baru menengok ke belakang apa yang terjadi saat saya menulis pembahasan itu. Ya, saya mengira-ngira, tulisan yang dianggap orang lain bagus biasanya saya menuliskannya dengan bahan yang memadai, waktu yang tenang, pikiran dan hati yang sedang bersahabat. Tetapi saat tulisan buruk, yang kalau saya baca ulang sendiri pun tidak faham maksudnya, itu tulisan biasanya ditulis saat bahan bacaan yang semraut, banyak ide yang berserak, pikiran dan hati yang kalut. Hasilnya pembimbing saja tidak faham dari apa yang dituliskan, bagaimana dengan lainnya. (ampuun..)

Tidak ada yang tidak bisa dipelajari dan diperbaiki. Dengan kesungguhan, konsentrasi dan terus memperbaiki saya yakin akan sampai. Meski itu tidak mudah. (tolooong…)

 

15 Eating Habits That Make You Live Longer

Sebenarnya bagi kita sdh sangat jelas bagaimana yg Rasul tunjukkn kpd kita. Apa yg dimakan, cara makan, dst.. this articles remain .me. thanks

TIME

For more than a decade, I’ve been working with a team of experts to study hot spots of longevity—regions we call Blue Zones, where many people live to 100 and beyond. They are the Greek island of Ikaria; the highlands of Sardinia; the Nicoya Peninsula in Costa Rica; Okinawa, Japan; and Loma Linda, Calif., home of the highest concentration of Seventh-day Adventists in the U.S. Remarkably, we’ve learned that folks in all these places share similar rituals and practices surrounding food. (Hint: They don’t count calories, take vitamins or weigh protein grams!) After analyzing more than 150 dietary studies conducted in Blue Zones over the past century, we came up with a global average of what centenarians really eat. Here are 15 age-old diet tips to borrow from the longest-living people on the planet.

Get 95% of your food from plants

Produce, whole grains and beans dominate meals all year…

View original post 1,192 more words

Percik Bacaan QS 45:21 – Konsekuensi Perbuatan

 

Inspirasiku pagi ini, Ar Rabi’ bin Khutsaim, dia Tabi’in murid Ibn Mas’ud ra. Sepanjang hidup orang yang bersamanya tidak pernah mendengar kata-kata yang kotor keluar dari mulutnya. Dia menjaga anggota tubuhnya. Menjaga pandangan, menjaga lisan, dan menjaga hati. Terlihat dari apa yang kubaca bagaimana cara Ar Rabi’ mendidik jiwa sangat patut ditiru.

Pernah suatu ketika saat Ar Rabi berada dalam masjid, ada sekelompok perempuan yang hendak ke masjid. Ar Rabi tidak sedikitpun menengok atau mengubah posisinya sedikit pun hingga perempuan-perempuan itu keluar. Memang tidak sedikit pandangan yang akhirnya membawa kepada penyesalan hidup yang berkepanjangan.

Bermula dari pandangan yang tidak terjaga, terlebih kepada lawan jenis. Pandangan yang tidak dikendalikan. Tidak salah jika bertemu pandang tanpa sengaja, itulah adalah anugrah. Namun setelah itu selesai tidak perlu diikuti segala angan dan khayal.

Setan sangat lihay, membuat perangkap agar kita mengikuti dorongan nafsu. Mengikuti pandangan kedua, mengutarakan perasaan hati, dan menunjukkan dengan perilaku. Masuk pada suasa bathin yang guncang, yang jika disadari telah jauh berjalan dalam langkah yang tersesat. Jika sudah begitu tentu tidak mudah membersihkan noda yang terus bertumpuk. Wajar jika bersusah payah menghadapi kesedihan, kegelisahan dan kehidupan yang berantakan. Namun satu sisi ada ketidak berdayaan melepas apa yang telah masuk ke dalam hati.

Tidak ada jalan untuk mengobati segala apa yang menjadi beban dalam hidup, kecuali dengan membersihakan jiwa, mendekat dan banyak beribadah hanya karena Allah. Itu pun belum tentu tuntas, kehidupan ini teramat rumit dalam pertentangan antara nafsu dan ketaatan. Jangan pernah berhenti memperkuat diri dengaan hal-hal yang positif.

Apa yang diucapkan lisan bagian dari cerminan jiwa kita sendiri. Betapa eloknya orang yang tidak pernah kita dengan mengeluh meski kita mengetahui betapa pahit hidup yang dialaminya. Tidak menjelekkan orang yang, meskipun dia teraniaya. Tidak mengeluarkan kata makian meskipun pantas dan manuasiawi jika diutarakan pada kondisi yang sedang dihadapinya. Pilihan untuk tetap berkata baik, dan memohonkan kebaikan kepada orang yang telah menzholiminya. Pekerjaan yang sangat luar biasa. Cara mendidik jiwa dengan berkata baik atau diam. Ar Rabi’ menginspirasikan ini.

Sepanjang hidup, saya merasa ada orang yang terluka dengan lisan saya, meskipun saat itu saya tidak bermaksud demikian, namun nyatanya apa yang saya ucapakan melukai hati orang. Saya tidak tahu apa yang mesti dikatakan kembali, hati telah tergores. Namun selama saya masih bisa berbuat, meminta maaf dan memberikan kebaikan dan belajar mengendalikan lisan sedikit membuat hati ini tenang. Saya kira tidak ada manusia yang suci tanpa salah dan dosa. Saya termasuk manusia itu, Beruntunglah ada Allah yang Maha Mengampuni.

Kemampuan mengendalikan diri, dengan cara mengikat hati hanya kepada Allah. Memohon ampunan setiap saat. Karena manusia hidup tidak pernah luput dalam berbuat yang tidak berkenan bagi orang lain. Manusia memang tempatnya salah dan dosa. Namun Allah sangat suka dengan orang yang selalu meminta ampunan dan mendekat kepada Allah.

Sibuk dengan memperbaiki kekuarangan diri, menjaga perasaan dan menghargai orang lain, layaknya diri ini ingin diperlakukan orang lain. Tidak ada orang yang suka jika keburukannya disebut. Allah saja menutupi aib yang ada pada orang, selama dia tidak membukanya. Tentu apa urusan kita menceritakan aib saudara sendiri.

Kesadaran itu kadang lepas ketika berkumpul dalam kelompok yang memang sedang membicarakan orang, dengan ringan dan tanpa sadar, kita sendiri terpancing untuk bercerita tentang keburukan orang lain. Sungguh memang tidak mudah untuk dapat mengendalikan diri, karena itu istighfar tiada henti. Allah maha luas ampunannya.

Tidak ada yang terlewat dalam catatan Allah, meski kita mampu menutupi segala keburukan yang ada dalam diri, sehingga tampak bagus di hadapan orang lain. Namun tidak di hadapan Allah, keburukan apapun yang kita perbuat, sangat jelas dihadapan-Nya.

Setiap yang dilakukan terdapat konsekuensi. Terus menerus dalam kejahatan dan keburukan akan menelan kehinaan. Karena memang tidak akan pernah sama antara yang selalu memohon ampunan dengan orang yang bangga dengan dosa-dosa.

Bagaimana Allah akan memberi pertolongan dan keberkahan, sementara kejahatan dan keburukan tidak pernah berhenti dikerjakan. Jangan pernah mengira sama perlakuan bagi orang yang sholeh dan salah.

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” QS. 45:21

Menerima segala konsekuensi dari perbuatan, dengan tetap bermohon ampunan. Kiranya segala apa yang menjadi beban dan akibat dari keburukan dapat berkurang. Mendekat dan terus mendekat kepada Allah dan berbuat kebaikan. Hingga masa tiba, kembali kepada-Nya. dan Allah ada dalam hati, lisan dan perbuatan kita.

Semangat pagi, meraih berkah dan menebar kebaikan.

15.04.15. # 07.11. Bogor.

Waktu Pukul 00:26 – Perlu Proporsional

14.04.15 at 00:26 di menit itu saya terbangun maksudnya hendak menulis dan memperbaiki apa yang menjadi tugas saya yang lama terbengkalai. Tetapi saya bingung hendak mulai dari mana, begitu banyak yang masih tanda tanya. Sambil mengembalikan otak yang baru saja diistirahatkan, saya menulis tulisan ini sebagai meditasi dan pemanasan.

Sesuatu yang dikerjakan dengan tidak penuh perhatian, banyak hal lain yang menyela pekerjaan, membuat apa yang menjadi target selalu terlewat. Masih tergambar jelas di dinding kamar saya, bahwa saya akan selesaikan pekerjaan ini di akhir tahun 2014. Namun nyatanya kini di tahun 2015 yang udah memasuki bulan ke 4 saya masih berkutat dengan pekerjaan tugas akhir ini.

Sungguh pun demikian saya menyadari waktu yang beralalu bukan begitu saja tanpa kesan. Banyak yang mesti saya sesuaikan dengan setiap permasalahan yang datang. Saya sangat percaya dengan apapun yang terjadi adalah yang terbaik. Saya pun mengira bahwa ini yang mesti dilalui, sebagai bagian dari tahapan perjalanan kehidupan saya.

Saya terkadang melihat bagaimana cara orang lain bekerja, dalam menyelesaikan tugas-tugas. Terkadang mereka hanya tidur beberapa jam saja. Tidur larut dan bangun lebih cepat. Tetapi saya, kadang aneh dengan diri sendiri, saya masih bisa tidur nyenyak dengan pekerjaan yang juga banyak. Tidur tetap di awal waktu dan bangun di awal waktu. Setiap kali azan isya berkumadang, rasanya mata saya sudah tidak bisa kompromi. Isi kepala saya sudah mulai ngaco. Saya kira itu waktu yang tepat untuk saya istirahat.

Setelah beberapa jam tertidur, saya masih bisa terbangun di awal waktu. Itu pun karena saya berniat sebelum tidur untuk bangun sesegera mungkin. Termasuk malam ini, saya kira ini sudah jam 2, ternyata baru beringsut dari garis tengah jam 12. Hendak melajutkan tidur, rasanya saya malu, dengan izin suami yang boleh menginap untuk mengerjakan tugas di asrama mahasiswa ini.

Pernah suatu waku saya ceritakan bagaimana saya bekerja, saya masih tetap tidur nyenyak, dan hanya merasa efektif bekerja menjelang dini hari hingga sebelum zuhur. Dengan nada santai suami saya mengatakan, “kalau begitu mengapa menginap kerja saja di rumah saja”. Dia mengira saya bekerja hingga larut, dan hanya sedikit tidur, seperti dia bekerja saat mengerjakan pekerjaan yang deadline. Dia hanya tidur beberapa jam saja.

Saya pernah mencoba demikian, hanya sedikit tidur di malam hari, saya lewati jam tidur saya, yang biasa pukul 9 maksimum sudah terbaring diperaduan, saya coba lewatkan dan teruskan terjaga hingga bener-bear lowbat, mungkin saya bisa tahan hingga jam 1, setelah itu tidur sebentar dan bangun lagi dini hari menjelang subuh. Tetapi apa yang terjadi pada siang hari, saya seperti kehilangan separuh isi kepala. Terasa kosong dan melayang. Tidur siang pun tidak mampu membayar, kepala yang pusing. Sehingga kerja tidak efektif untuk beberapa waktu.

Sejak itu, saya memilih dan memperhitungkan, antara efektifitas bekerja dan istirahat. Terlebih ada buku yang pernah saya baca, lupa judulnya, hehe.. bahwa pada saat istirahat tidur dalam lelap, tepat jam 12, itu adalah waktu yang digunakan untuk tubuh menggantikan dan memperbaiki sistem dalam tubuh yang bermanfaat bagi tubuh. Karena itu tidur terlalu cepat pun tidak baik, sehingga membuat terbangun di tengah malam. Tidur larut sama halnya, karena bisa terlewat waktu yang penting bagi tubuh. Maksudnya masih terjaga saat tiba jam 12. Nti cek lagi ya..

Meskipun saya bekerja dengan pola yang tidak sama dengan orang. Saya menerima apa yang menjadi kebiasaan saya, yang terpenting masalah pekerjaan yang menjadi tugas saya terselesikan dan saya tetap sehat. Memenuhi kebutuhan tubuh dengan proposional, memenuhi apa yang menjadi haknya, adalah bagian dar tuga hidup juga. Tentu setelah itu saya berharap banyak dapat tuntaskan segala pekerjaan.

At 00.53. Beberapa menit berlalu, saya kira sudah cukup melakukan pemanasan jari jemari mengetik di atas keypad, dan pemanasan otak untuk dapat diajak memecahkan persoalan yang masih banyak butuh fokus dan konsentrasi. Let’s go every part in my body..

Hehe.. meski akhirnya beberapa jam kemudian saya bobok lagi.. memang masih terlalu malam untuk bangun. –alasan. 02.05. stabil di 03.00. until meet the sun shine.

Bogor, asrama mahasiswa UIKA.